Showing posts with label Cinta. Show all posts
Showing posts with label Cinta. Show all posts

Munajat Kerinduan Ketika Ziarah Di Pintu Masuk Tanah Suci: Syair Inspirasi Dari Qasida Pertama Al Hallaj

Friday, September 18, 2009

Ini aku datang, duhai Rahasiaku, Curahan
Hatiku!
Ini aku datang, duhai Tujuan dan Arah Hidupku!
Aku memanggilMu....., ah tidak! tapi Engkau
memanggil para diriMu sendiri!
Lalu bagaimana aku akan berseru, "Hanya Engkaulah!"
sedang Engkau berbisik padaku, "Inilah Aku"
Duhai Engkau, inti dari keberadaanku,
duhai Engkau, serpihan-serpihan hasratku,
Duhai Engkau, sumber kekuatanku,
Engkaulah keutamaanku,
yang senantiasa trsembunyi dalam gumamanku!
Duhai totalitas dari seluruh totalitasku,
Engkaulah pendengaran dan penglihatanku,
Duhai totalitasku, persatuan dan serpihanku,
Duhai totalitas, dari seluruh totalitasku,
tapi totalitas dari totalitas, adalah sebuah misteri,
Dan inilah totalitas dari totalitasMu, aku kabur
dengan apa yang hendak kuungkapkan!
Duhai Engkau, tempatku bergantung,
diriku tenggelam dalam ekstase,
Dan Engkau datang menjadi penebus
atas duka nestapaku!
Aku menangisi hukumanku yang tidak ditampung oleh tanah kelahiranku
melalui kepatuhan,
Dan musuh-musuhku mengantarkan rintihanku,
Duahi kekasih, mendekatlah padaku,
menepis kekhawatiranku, yang menggigil dalam hasrat
yang menghunjam di lubuk hati,
Duhai kekasih, apa yang harus kulakukan,
saat penyakitku menjemukan dokter-dokterku,
Mengajak mereka berkata, "sembuhkanlah dirimu melalui Dia"
Tapi aku berkata, bagaimana menyembuhkan
penyakit dengan penyakit?
Karena cintaku padaMu tlah mengikis dan membakar,
Bagaimana aku 'kan mengadu pada Raja Dirajaku?
Sepintas aku merasakannya,
dan jiwaku mengenalnya,
Tapi tak satupun yang mampu
mengungkapkannya hanya dalam sekejapan mata,
Ah, kemalangan jiwaku karena diriku sendiri....!
Sayang ! akulah justru yang menjadi penyebab kemalanganku!
Layaknya tubuh yang tenggelam,
dan hanya jari-jarinya yang terapung, meminta pertolongan di tengah samudera lepas,
Tak seorang pun tahu apa yang menimpaku,
kecuali Dia yang melebur dalam jiwaku,
Dia yang berkata, betapa malang nasib yang
menimpaku, dan atas kehendakNya aku mati atau hidup kembali!
Duhai Engkau muara doa dan harapanku,
duhai Tuan Rumahku,
Duhai Engkau semangat hidupku, duhai rahasia
keyakinanku, dan aku menjadi bagian di dalamnya,
Katakan padaku, "Aku telah menebusMu," duhai pendengaranku!
Duahi Engkau penglihatanku!
sampai habis masa pengasinganku....,o, betapa lama!
Meskipun Kau bersembunyi dari dua mataku,
jiwaku terjaga dalam nafasMu dari kejauhan.

Baca selengkapnya.....

Disiplin Anak

Tuesday, September 15, 2009




Oranguta yang tidak mendisiplinkan anaknya mungkin berbuat begitu karena citra diri yang buruk. Dalam keluarga, citra diri buruk kerap kali dimanifestasikan dengan keengganan untuk mendisiplinkan anak. Orangtua menyembunyikan hal ini di balik topeng serba memperbolehkan. "Saya sangat mencintainya sehingga saya tidak bisa mencegahnya memiliki apa pun."

Sesungguhnya, oranguta sering merasa takut menyebabkan anak menarik diri atau menahan cintanya. Kebenaran yang patut disayangkan adalah bahwa hal ini sering menyebabkan orangtua kehilangan pengendalian dan bahkan kehilangan rasa hormat dan cinta. Anak kehilangan kepercayaan kepada orangtua dan rasa aman yang menyertai kesadaran tentang siapa yang memimpin. Segera citra diri anak juga rusak, dengan akibat yang luas.

Ini langkah pertama dalam kehilangan rasa hormat kepada wewenang yang akhirnya menyebabkan pemberontakan terhadap wewenang. Yang merupakan tragedi adalah bahwa banyak masalah bisa dihindari kalau orangtua dan guru tahu bagaimana cara mengenali tanda-tanda citra diri buruk. Tindakan anak jelas sekali mengatakan "perhatikan saya," "cintailah saya", "saya ingin kau memperdulikan apa yang saya lakukan!".

Para orangtua dan guru, kalau Anda mendisiplinkan anak itu, Anda mengatakan kepada si anak bahwa Anda sangat memperhatikan apa yang dia lakukan sehingga Anda memberlakukan pengaruh untuk mengarahkan apa yang dilakukannya.

ORANGTUA YANG MENYAYANGI ANAKNYA MELAKUKAN APA YANG PERLU DILAKUKAN, BUKAN APA YANG DIINGINKAN ANAK UNTUK DILAKUKAN.


Baca selengkapnya.....

Alam Semesta Dan Kekuatan Pribadi: Muhammad Iqbal Free Inspiration Poetry

Sunday, September 13, 2009




Segala bentuk peristiwa adalah akibat dari sang Pribadi
Apapun yang engkau saksikan itu semata sebab rahasia Pribadi
Apabila kePribadian bangkit mengatasi kesadaran
Diwujudkannya dunia ide dan pikiran sejati
Ratusan alam melingkup dalam intisarinya
Mewujudkan dirimu melahirkan yang bukan pribadimu
Kepribadian menyemaikan bibit kehendak di atas dunia
Pertama dia anggap dirinya itu bukan dirinya
Dari dirinya dilahirkannya berjenis bentuk lain
Agar menambah warna-warni kenikmatan perjuangan
Dia lemaskan tangannya
Agar dia menyadari tenaganya
Tipu daya terhadap diri sendiri adalah saripati kehidupan
Bagaikan bunga mawar sang pribadi hidup bermandikan darahnya sendiri
Demi sekuntum mawar dimusnahkannya ratusan taman mawar
Dan dikatakannya bahwa ratusan keluh-kesah hendak mencari sebuah lagu
Untuk satu langit diciptakannya ratusan putri bulan
Dan bagi satu lafadz ratusan makna kata
Maaf bagi kelimpahan himmah dan kebengisan ini
Keduanyalah yang membentuk dan menyempurnakan keindahan rohani
Kecantikan Shirin menyatakan kegelisahan Farhad
Semerbak wangi kembang jeruk mengundang harum muskus
Nasib sang agas mencampakkan dirinya ke dalam nyala pelita
Derita sang agas dinyatakan oleh cinta
Pensil Sang Pribadi melukis ratusan kekinian
Agar menjelma ajar masa depan
Nyalanya membakar ratusan Ibrahim
Agar berkilauan lampu seorang Muhammad
Subyek,obyek, cara, sebab-musabab
Seluruhnya ada bagi tujuan amal
Sang pribadi bangkit, menyala, jatuh, cemerlang, dan bernafas
Membakar, menyinar, berjalan dan lari terpental
Meluaskan ruang waktunya
Dan keabadian semakin melunasi ujudnya
Dia tidur beralaskan tikar ilalang
Malamku lebih panas dari sebuah pagi di padang Mahsyar
Dialah awan berarak bulan April dan akulah tamannya
Pohon anggurku diselimuti hujan
Kusemaikan mataku di padang cinta
Dan aku nikmati buahnya yang dahsyat
Hingga tanah Madinah paling indah tiada duanya
Ah, berbahagialah kota yang dimukimi oleh Yang Tercinta
Tenggelam aku menakjubi gaya bahasa Maulana Jami
Sajak dan prosanya menjadi obat bagi masa mudaku
Bertebaran dari tangannya sajak cinta indah memikat
Dan dirangkainya kalung mutiara seolah memuja Mustafa
Muhammad adalah pendahulu alam semesta
Seluruh dunia berbakti kepadanya sebagai tuan mereka
Pancaran kaifayat dari anggur cinta yang sejati
Dan sifat cinta adalah patuh sepatuh-patuhnya
Seperti orang suci dari Bistam yang amat taat
Yang selalu berpuasa dari makanan lezat
Wahai sang asyik, berbaktilah engkau kepada Muhammad
Agar engkau dapat menangkap Tuhan
Bersemayamlah sekejap di Hira kalbumu
Tinggalkan dirimu dan hijrah kepada Tuhan
Setelah engkau mendapat kuasa-Nya kembalilah lagi kepada dirimu
Hancurkan kepala berhala Lat dan Uzza
Himpunlah bala serdadu dengan kekuatan Cinta
Ujudkan pribadimu di Bukit Faran Cinta
Agar Tuhan dari Ka'bah melimpahkan anugerah-Nya bagimu
Dan terbukalah makna ayat: Inni ja'ilun--
Sesungguhnya akan kuciptakan kalifah-Ku di muka bumi.

Baca selengkapnya.....

Setiap Masalah Ada Jalan Keluar




Pada Hari Raya Imlek atau Tahun Baru China, akan terdengar ucapan Selamat Tahun Baru di mana-mana. Selamat Tahun Baru dalam bahasa Mandarin diucapkan Guo Nian Hao. Sejak pagi-pagi orang sudah mulai Bai Nian, yakni pergi saling mengunjungi dan saling mengucapkan Guo Nian Hao. Pertama-tama mereka akan berkunjung ke kerabat dekat, kemudian relasi dekat, dan kemudian ke segenap handai tolan yang mereka kenal dan dapat mereka kunjungi. Mengapa mereka saling mengucapkan Guo Nian Hao, apa alasannya, dan dari mana asalnya serta kapan mulainya?

Pada zaman dahulu kala di negeri China ada sebuah desa yang sangat indah, aman serta tenteram. Penduduk di desa itu sangat ramah, suka menolong, saling menghormati, dan bersama-sama mereka hendak membuat desa itu makmur dan damai. Karena itu, desa tersebut dikenal sebagai Desa Cinta Damai, penuh berkat, dan bahagia. Penduduk desa yang harus bekerja di negeri jauh, selalu rindu pulang ke desanya dan menikmati damai bersama penduduk desa lainnya. Desa itu juga menjadi desa tauladan, sehingga desa-desa tetangga ingin membangun desa mereka seperti Desa Cinta Damai. Tak pernah ada pencuri, tak pernah di temui ada pengacau, bahkan yang luar biasa, tak pernah terjadi keributan antar tetangga.

Ketika membaca kisah ini dari berbagai versi, saya kira mirip dengan negeriku Indonesia pada zaman dahulu. Saya masih ingat lirik lagu yang menggambarkan hal itu "....mereka saling menghargai, saling menghormati hak asasi; mereka bernaung di bawah pusaka Garuda Pancasila dan Sang Saka Merah Putih lambang Indonesia."

Ketenteraman dan kedamaian Desa Cinta Damai suatu saat terusik, sejak saat itu Desa Cinta Damai berubah menjadi desa yang mencekam dan menakutkan. Hal itu membuat penduduk mulai meninggalkan Desa Cinta Damai, khususnya malam menjelang Tahun Baru China. Penyebabnya adalah seekor makhluk bernama Nian.

Pada kalender China bulan dua belas tanggal tiga puluh malam, makhluk raksasa itu selalu datang ke desa itu. Setiap kali datang, Nian selalu merusak ladang dan memakan tanaman, merusak kandang serta memakan hewan-hewan peliharaan. Penduduk desa telah berusaha keras mencegah datangnya Nian pada setiap malam Tahun Baru China; dan ketika Nian datang, mereka sudah berusaha untuk mengusir dan menghalaunya. Walau Nian hanya datang semalam, dampak yang ditimbulkannya sangat besar. Seisi desa porak poranda.

Keberingasan, kesadisan, serta kebrutalan Nian membuat penduduk ketakutan, bahkan menjadi trauma. Bayangkan, sawah, ladang, serta pemukiman menjadi berantakan. Burung-burung di pohon pun berkurang drastis, bunga rumput dan ilalang pun makin lama makin sedikit. Tahun demi tahun keadaan makin memprihatinkan.

Desa yang aman tenteram itu menjadi desa yang menakutkan dan memprihatinkan. Desa yang selalu ingin dikunjungi oleh penduduk dari desa-desa tetangga, berubah menjadi desa yang mengancam keselamatan pengunjungnya. Desa yang selalu dirindukan penduduknya pada saat mereka jauh, khususnya untuk berkumpul bersama pada malam Tahun Baru China, kini telah berubah menjadi desa yang dihindari.

Desa Cinta Damai menjadi desa angker penuh nestapa. Oleh karena itu, penduduk yang masih tinggal dan belum pindah ke desa-desa lain, akan meninggalkan desa itu khususnya pada tanggal 30 bulan dua belas kalender China.

Di desa itu tinggal satu keluarga yang bertahan, bahkan berniat mengembalikan suasana desa tersebut seperti sedia kala. Namun, rasa takut masih menghantui mereka. Keputusan pindah atau tidak pindah menjadi pergulatan batin yang tidak mudah bagi mereka.

Suatu saat mereka sampai pada keputussan untuk pindah; namun belum sempat niat itu terwujud, Nian sudah tiba di desa tersebut. Seperti kesetanan, ia memporak-porandakan desa itu. Akan tetapi, saat itu tidak ada lagi tumbuhan yang bisa dimakan, tidak ada lagi hewan untuk disantap, membuat kebrutalan dan keberingasan Nian makin menjadi-jadi. Ia membongkar rumah demi rumah penduduk untuk mencari apa saja yang bisa di makan. Kalau tidak tumbuhan dan hewan, Nian juga bisa memakan manusia yang ditemukannya.

Satu per satu rumah sudah di bongkar dan hanya tersisa beberapa lagi, termasuk rumah dari keluarga yang masih bertahan itu. Ayah, ibu, dan anak-anak dalam keluarga itu pun berdiskusi. Sebab, cepat atau lambat Nian pasti akan sampai di rumah mereka. Memikirkan hal ini, mereka menjadi takut karena jika Nian tidak menemukan apa-apa, pasti tubuh merekalah yang akan menjadi santapannya.

"Ayo cepat kita melarikan diri, jangan membawa barang apa pun, yang penting kita sekeluarga bisa selamat," demikian teriak sang ayah. Mereka segera berlari ke luar rumah dan bertekad seisi keluarga dapat selamat. Namun, sang ibu tidak rela meninggalkan peralatan dapur dan perabot rumah kesukaannya. Maka, ia membawa banyak peralatan dapur dan perabot rumah. Ada gelas, piring, baskom, ember, dan sebagainya. Barang-barang itu sangat banyak, maka ayah dan anak-anaknya pun membantu sang ibu.

Namun karena ada barang yang harus di bawa, lari mereka pun menjadi sangat lambat. Nian makin lama makin mendekat, dan anak-anak mulai berteriak ketakutan dan panik. Barang-barang bawaan sang ibu pun di lempar satu per satu sambil tetap berteriak tanpa menoleh ke belakang.

"Prang...! Klontang........! Pang.....! Piung..!"

Barang-barang yang dilemparkan itu menimbulkan suara yang memekakkan telinga.

Ketika barang-barang sudah habis, sang ayah pun menggendong anaknya yang paling kecil dan terus berlari menyelamatkan diri. Setelah beberapa puluh langkah lagi, mereka merasa tidak mampu berlari lagi. Dan, pada saat yang bersamaan tidak terdengar suara Nian lagi. Mereka pun berhenti berlari dan memberanikan diri untuk menoleh ke belakang. Sungguh ajaib, Nian benar-benar sudah tidak ada.

Namun, setelah dilihat dengan teliti dan seksama, ternyata makhluk itu masih berdiri di balik sebuah pohon dengan raut muka yang ketakutan.

Merasa mantap, dengan sisa-sisa tenaga yang ada, sang ayah pun berteriak memanggil penduduk desa agar masing-masing membawa barang yang jika dijatuhkan bisa menimbulkan suara gaduh. Ia sendiri berlari kembali dan mengambil barang-barang yang sudah dibuangnya.

Nian tampak tidak bereaksi. Sang ayah dengan keras memukul loyang. Dan bersamaan dengan itu penduduk mulai datang, juga memukulkan barang-barang bawaan mereka. Suara yang ditimbulkan pun tambah gaduh dan berisik. "Dang.....dang....klontang...pang....pung......" sahut-menyahut.

Nian mulai panik. Makin lama makin ketakutan.Akhirnya ia memutuskan untuk mengambil langkah seribu, lari terbirit-birit. Makhluk menakutkan itu berlari sekencang mungkin dan sejauh mungkin.

Legalah hati keluarga itu. Mereka sangat bergembira. Mereka bukan hanya tidak jadi pindah ke desa tetangga, tetapi juga berhasil membuat Nian ketakutan dan lari tunggang-langgang.

Akhirnya, penduduk tersebut kembali membangun desa mereka dengan tenang dan membuat keadaan seperti sedia kala. Lambat laun, penduduk desa yang sudah mengungsi, pulang kembali ke desa mereka.

Sejak saat itu mereka saling mengucapkan Guo Nian Hao. Untuk mencegah Nian datang kembali, seluruh penduduk desa, tua-muda, besar-kecil, akan memukul benda-benda dapur dan perabotan sekeras mungkin pada tanggal 30 bulan dua belas malam. Esok harinya mereka akan dengan sukacita menikmati hari raya Imlek dan saling mengucapkan Guo Nian Hao.

Tahun demi tahun mereka membunyikan perabotan rumah tangga dan akhirnya digantikan dengan petasan pada dewasa ini dengan maksud agar hal yang menakutkan tidak mengganggu mereka dalam menikmati tahun baru.


Baca selengkapnya.....

Menolong Orang Lain : Ten Sing Free Inspiration

Friday, September 11, 2009




Ketika Sir Edmund Hillary dan penunjuk jalan pribuminya, Ten Sing, berhasil melakukan pendakian Gunung Everest yang bersejarah, Sir Edmund menjadi orang pertama dalam sejarah yang mencapai puncak. Ketika turun dari gunung, Sir Edmund terpeleset, tetapi Ten Sing memegang tali erat-erat dan mencegah mereka berdua jatuh dengan menancapakan kapaknya ke dalam es.

Ten Sing menolak penghargaan istimewa apapun karena penyelamatan jiwa Hillary. Dia menganggap hal itu sebagai bagian rutin pekerjaannya dan menyatakannya dengan sederhana tetapi dengan fasih ketika dia berkata. "Pendaki gunung selalu saling menolong."

Sungguh sebuah falsafah yang menakjubkan! Sayang sekali falsafah ini tidak diambil oleh setiap orang. Akan jauh lebih baik keadaan kita seandainya kita mengambilnya. Mungkin tidak setiap orang akan mengambil standar ini, tetapi karena Anda baru saja membaca pesan ini, Anda bisa mengambilnya. Itu berarti bahwa keadaan Anda akan lebih baik dan demikian pula orang-orang yang Anda pengaruhi. Kalau saja cukup banyak orang yang mendengar falsafah yang sehat ini dan menyebarluaskan kata-katanya, keadaan kita akan menjadi lebih baik dimana pun juga.

TUGAS MEMBUAT KITA MELAKUKAN SEGALA HAL DENGAN BAIK, TETAPI CINTA MEMBUAT KITA MELAKUKANNYA DENGAN INDAH.


Baca selengkapnya.....

Rasa Syukur............Free Neil Gallagher Inspiration

Thursday, September 10, 2009




Dalam sebuah artikel yang saya baca belum lama ini, teman kita Neil Gallagher, seorang pengarang terkemuka, menulis tentang rasa syukur. Marilah kita dengarkan dia.

Hari ini saya bersyukur kepada Tuhan karena:
Saya bisa melihat
-warna pelangi
-struktur kepingan salju
-sinar matahari yang keemasan
-senjakala yang merah jambu keunguan

Saya bisa mencium bau
-ikan segar
-limau yang baru dibelah
-jerami yang baru disabit
-bayi yang baru dibedaki

Saya bisa mendengar
-truk besar membunyikan klakson di jalan raya
-deringan telepon
-jazz yang panas dan blues yang lembut
-bisikan rahasia seorang cucu

Saya bisa merasakan
-pelukan teman hidup saya
-hawa dingin yang menusuk hidung dan sengatan rasa nyeri
-degupan jantung dan kejapan mata saya
-urat-urat daun

Saya bisa mencecap
-gigitan saus pedas pada lidah yang tidak curiga
-renyahnya keripik dan lembutnya yogurt
-lezatnya teh hangat

Hari ini, saya bersyukur untuk mata, hidung, telinga, sentuhan, dan lidah--jalan yang harus dilalui untuk kebaikan dunia dan cinta kasih Allah.

Hari ini, saya bersyukur untuk keluarga dan teman-teman, keyakinan dan bendera saya.

Hari ini, saya bersyukur untuk semuanya.

Hari ini, saya berkata: "Tuhan, Kau memberiku begitu banyak. Beri aku satu hal lagi--hati yang bersyukur."

Bukankah itu pemikiran yang bagus? Terimaksih, Neil, untuk kata-kata indah yang bisa dikomunikasikan begitu jelas.


Baca selengkapnya.....

Pencegahan..........................




Pernahkah Anda memperhatikan bahwa sebagian besar teman Anda menerima perilaku Anda yang baik tanpa banyak ribut-ribut atau komentar? Tetapi pada saat melakukan kesalahan seketika Anda diperingatkan, ditegur, dan kadang-kadang diperlakukan secara lebih buruk lagi.

Saya yakin, Anda telah memperhatikan hal itu tentang mereka yang ada di sekeliling Anda, tetapi pernahkah Anda berhenti untuk menyadari bahwa Anda mungkin bersalah tentang hal-hal yang sama? Mungkin Anda bersalah menerima perilaku baik kawan-kawan, teman hidup, atau anak-anak Anda sebagai hal yang sudah semestinya. Mungkin Anda belum memberikan penghargaan atas fakta bahwa anak-anak Anda mencapai prestasi yang bagus di sekolah, menyetir mobail secara bertanggungjawab dan aman, dan punya teman-teman yang merupakan warganegara muda yang mantap. Kadang-kadang kita melupakan poin-poin yang baik dan hanya menanggapi yang negatif.

Baiklah saya desak Anda untuk mencoba sedikit "mencintai sebagai pencegahan". Doronglah anak-anak Anda hari ini dengan memuji mereka untuk bidang-bidang dalam kehidupan mereka yang yang mereka jalankan dengan baik. Praktekkan tindakan mencintai secara preventif dalam keluarga Anda, dan buatlah kebiasaan untuk memuji teman-teman, sesama karyawan, dan kenalan.

Kalau Anda mau menggunakan tindakan mencintai sebagai pencegahan, Anda akan membangkitkan watak dalam diri orang lain yang akan membantu mereka menjadi pemenang, dan dengan membantu mereka menjadi pemenang, Anda pun akan menjadi pemenang!

SEBAGAIMANA KEBUN YANG DITELANTARKAN SEGERA AKAN DISERANG RUMPUT LIAR, DEMIKIAN PULA CINTA YANG DIJAGA SECARA SEMBARANGAN DENGAN CEPAT AKAN DITENGGELAMKAN OLEH PERASAAN YANG TIDAK BAIK. (ANDRE MAUROIS)




Baca selengkapnya.....

Teguh Pribadi dengan Cinta: Puisi Inspirasi Muhammad Iqbal

Wednesday, July 08, 2009

Apabila pribadi diperkuat dengan cinta
Kekuatannya menguasai alam semesta
Kiai langit menghias langit dengan taburan bintang
Dipetiknya putik bunga dari dahan pribadi
Tangannya menjelma tangan Tuhan
Bulan pecah oleh jemarinya
Dialah yang akan mendamaikan setiap silang sengketa dunia
Petunjuknya dipatuhi oleh Darius dan Jamsid

Dengarlah. Akan kuceritakan riwayat Bu Ali Qalandar
Yang namanya termasyhur di daratan India
Dia yang mendendangkan taman bunga kepada kita
Dengan jubahnya yang berkebaran penuh kemilau
Berubahlah negeri bencana itu jadi taman firdausi
Suatu hari seorang santrinya yang muda berjalan-jalan ke pasar
Saat itu pula tampak gubernur kota tengah menunggang kuda
Para oengawal dan pemayung turut berkuda di sisinya
Pengawal yang di depan berseru kepada santri muda itu:
"Hai, orang gila. Enyahlah kau dari jalan Tuan Gubernur!"
Tapi, santri itu terus berjalan tanpa hirau dengan kepala menunduk
Tenggelam dalam bara api lamunannya
Lalu sang gubernur mengayunkan tongkat ke kepalanya
Sampai patah tongkat itu
Santri muda itu mengerang kesakitan sambil menyingkir ke tepi
Dia amat sedih, hatinya luka
Kemudian dia mendatangi Bu Ali masih dengan airmata kesedihan
Betapa terkejutnya sang Kiai mendengar peristiwa itu
Lalu dia perintahkan kepada juru tulisnya:
"Tulislah sepucuk surat kepada sang Sultan.
Katakan kepada beliau
Bahwa gubernur telah menganiaya seorang santriku
Karena dia telah menodai hidupnya dengan tabiatnya sendiri
Tangkap gubernur celaka itu
Jika tidak, maka kerajaanmu akan kuserahkan kepada orang lain."

Surat kiai itu sampai kepada Tuhan
Sultan menggigil ketakutan
Sekujur tubuhnya didera penderitaan
Wajahnya pucat pasi seperti matahari senjakala
Maka sultan pun menghukum gubernur tersebut
Lalu dia meminta ma'af kepada Bu Ali sang Sufi suci.
Maka sang sultan memilih Khusrau penyair terkemuka
Untuk menjadi wakilnya menghadap Bu Ali
Penyair berbakat selembut sinar rembulan itu
Datang kepada sang sufi seraya memainkan sitarnya
Syairnya yang mempesona itu sanggup meluluhkan hati sang sufi
Dan Bu Ali pun memberikan ma'af kepada sang sultan.

Syeh Ali berfatwa:
"Jangan lukai hati ulama dan sang sufi
Jangan lemparkan dirimu ke dalam nyala api kemungkaran."

Baca selengkapnya.....

About This Blog

Blog Archive

  © Blogger template The Professional Template II by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP