Showing posts with label Cerita. Show all posts
Showing posts with label Cerita. Show all posts

Xin Shi Yang Cantik: Cerita Inspirasi Dari Negeri Tirai Bambu

Monday, September 21, 2009




Pada zaman Chun Qiu ada seorang wanita yang terkenal dengan kecantikannya, namanya Xin Shi. Xin Shi diakui sebagai salah satu dari empat wanita tercantik sepanjang perjalanan sejarah bangsa China. Karena itu, jika kita berjalan-jalan ke negeri China, ada eksesori dengan gambar empat wanita tercantik di China, salah satu di antaranya Xin Shi. Sayangnya Xin Shi yang cantik saat itu sakit-sakitan. Wajahnya pucat dan ia sering mengeluh sakit di bagian dadanya.

Akan tetapi, saat ia meringis kesakitan, orang yang melihatnya masih mengatakan bahwa dia tetaplah cantik. Tak mengherankan ada orang-orang saat itu mengatakan, "Meskipun sakit dan wajahnya pucat, Xin Shi masih tetap kelihatan cantik."

Xin Shi mempunyai tetangga yang juga adalah seorang gadis, namanya Dong Shi. Ketika makin lama makin banyak orang yang memuji Xin Shi, Dong Shi merasa tidak suka dan iri hati. Karena itu kepada orang banyak ia berbicara, "Apa lebihnya Xin Shi, apalagi wajahnya yang sering pucat dan meringis menahan sakit. Sebenarnya kecantikanku tidak jauh beda dengan Xin Shi." Tetapi setiap orang yang mendengar ucapannya selalu tertawa sinis sambil berlalu. Hal itu membuat Dong Shi semakin membenci Xin Shi. Ia selalu berpikir, "Aku harus bagaimana supaya orang memujiku dan tidak terus menerus memuji Xin Shi?"

Suatu hari penyakit Xin Shi kumat lagi, tetapi saat itu ia tidak bisa istirahat. Ia harus pergi ke sungai untuk mencuci kain tenun. Karena itu, satu tangannya memegang keranjang berisi kain tenun dan satu tangan lagi memegang dadanya yang sakit. Ia pun tidak bisa berjalan cepat menuju sungai. Di tengah perjalanan ia berpapasan dengan Dong Shi. Dong Shi melihat wajah Xin Shi pucat pasi dan meringis kesakitan. Awalnya Dong Shi sangat marah dan berkata lirih, "Orang ini yang dibilang 'walaupun kesakitan tetapi tetap cantik', tetapi pada pemandangan saya tidaklah demikian!" Lalu Dong Shi sungguh-sungguh melihat wajah Xin Shi yang sedang menahan sakit tersebut dan dalam hati ia berkata, "Wah, ternyata memang pendapat banyak orang benar bahwa walau menahan sakit, Xin Shi tetap terlihat cantik! Aku tidak boleh terus-menerus iri dan membencinya. Orang akan semakin tidak suka kepadaku. Sebenarnya aku harus bagaimana?"

Ia menyaksikan Xin Shi makin lama berjalan menjauhinya. Ia terus berpikir dan berpikir dan akhirnya mendapat ide, "Xin Shi dengan wajahnya yang tampak sakit terlihat cantik oleh orang-orang , pasti baik jika aku berjalan di belakangnya dan berpura-pura sakit juga seperti dia. Mungkin hanya dengan cara ini orang juga bisa melihat kecantikanku." Lalu, ia tersenyum gembira dan berlari supaya tidak terlalu jauh dari Xin Shi. Ketika ia berjalan mengikuti Xin Shi, ada seorang nenek tua. Lalu Dong Shi segera berpura-pura sakit.

Waktu nenek itu memperhatikan orang yang berjalan di belakang Xin Shi, dan ternyata adalah Dong Shi, nenek tua itu ingin menolongnya. "Nona Dong Shi kamu sakit apa?" tanya nenek itu. Dong Shi pun balik bertanya kepada nenek tua itu, "Nenek, jika penampilanku seperti ini apakah aku tambah cantik seperti Xin Shi?"

Waktu nenek itu mendengar pertanyaan itu, ia jadi mengerti bahwa Dong Shi cuma berpura-pura sakit. Nenek tua itu pun tidak dapat menahan tawanya, dan ia tertawa lepas sekali. Setiap kali bertemu orang, Dong Shi selalu mendapat respon yang sama, orang pada tertawa. Dong Shi berpikir orang-orang mulai memuji dan menyukainya, tetapi lama-kelamaan ia paham bahwa orang-orang mengejeknya. Akibatnya, dengan marah ia bertanya kepada orang-orang banyak yang kebetulan berkumpul di suatu tempat, "Kenapa kalian menertawakanku? Bukankah kalian berpendapat wajah Xin Shi yang sakit juga terlihat cantik. Kenapa waktu wajahku tampaknya sakit kalian tidak menyebutku cantik?" Ketika mendengar ucapan Dong Shi mereka pun berhenti tertawa.

Di antara orang tersebut ada yang menyahutnya, "Gadis bodoh, Xin Shi pada dasarnya memang sangat cantik. Jadi, walaupun dia tampak pucat dan kesakitan ia tetap kelihatan cantik. Kamu bukanlah Xin Shi. Kalau kamu berpura-pura sakit seperti ini bukan tambah cantik, tetapi tambah jelek!"

Wajah Dong Shi merah padam saat mendengar perkataan orang itu. Dong Shi malu dan akhirnya mengetahui bahwa perkataan dan tanggapan orang yang ditemuinya itu benar. Akhirnya ia berlari dengan cepat pulang ke rumah. Mulai saat itu ia tidak lagi ingin meniru wajah Xin Shi yang tampak kesakitan karena ia sudah tahu dengan pasti Dong Shi bukanlah Xin Shi.

Sejak saat itu orang di negeri China selalu mengatakan orang yang suka meniru orang lain dengan sebutan Dong Shi Xiao Pin.

Baca selengkapnya.....

Terus Berkonsentrasi, Hidup Akan Jauh Lebih Baik: Sebuah Cerita Inspirasi

Sunday, September 20, 2009




Pada zaman dahulu kala di negeri China ada seorang ahli bermain catur, namanya Qiu. Karena kemahirannya bermain catur yang sulit dicari tandingannya, maka ia di panggil Yi Qiu.

Pada waktu usia mulai tua, Yi Qiu mempunyai dua orang murid yang diharapkan dapat bermain catur semahir dirinya. Karena itu, ia serius dalam mengajar kedua murid tersebut. Tiap hari berlatih catur. Ia ingin semua kemampuannya, kiat-kiatnya dalam memenangkan pertandingan, dan semua strategi pertahanan dan strategi menyerang dalam bermain catur semua diberikannya kepada kedua murid tersebut. Ia mengharapkan dalam waktu yang tidak terlalu lama kedua muridnya sudah bisa membuatnya bangga. Dari dua murid tersebut, seorang sungguh-sungguh serius dalam memperhatikan semua yang diajarkan oleh Yi Qiu. Ia sangat serius dan tekun dalam berlatih untuk meningkatkan keterampilannya bermain catur. Hal-hal lain dinomorduakan olehnya.

Adapun seorang murid lainnya, tampaknya saja ia sedang duduk belajar dan berlatih, namun sebenarnya pikirannya terbang ke mana-mana. Ia sulit mencurahkan konsentrasinya untuk bermain catur. Ketika berlatih atau belajar catur, sebentar-sebentar ia melihat keluar jendela memandang langit dan juga pohon-pohon di luar sana.

Jika ada sekumpulan burung terbang melintas, ia selalu membayangkan seandainya bisa menangkap seekor setiap hari maka ia bisa makan daging burung goreng atau panggang yang lezat. Sampai Yi Qiu selesai mengajar, ia sama sekali sulit mengingat semua ajaran itu karena seringnya ia melamun.

Satu hari Yi Qiu memanggil kedua muridnya untuk duduk berhadap-hadapan di meja catur. Ia ingin mengetahui sampai di mana pelajaran yang sudah dia ajarkan diserap oleh kedua murid tersebut. Hari itu murid yang serius belajar dan berlatih mengenakan baju berwarna hijau, sedangkan murid yang sering melamun mengenakan baju berwarna biru. Oleh sebab itu, Yi Qiu pada hari itu memanggil mereka dengan sebutan Si Hijau dan Si Biru.

Walau Si Biru sebelum menjadi murid Yi Qiu permainan caturnya setingkat di atas Si Hijau, namun saat itu Si Hijau mampu mengalahkannya dengan mudah. Hasil permainan catur itu membuktikan bahwa Si Hijau keterampilannya meningkat pesat dan Si Biru keterampilan bermain caturnya tidak begitu meningkat. Saat itu Yi Qiu tahu pasti bahwa Si Hijau benar-benar serius belajar dan berlatih untuk meningkatkan keterampilannya, sedangkan Si Biru banyak melamun dan kurang berkonsentrasi dalam belajar dan berlatih. Ia tahu bahwa sebenarnya Si Biru mempunyai otak yang lebih cerdas dari Si Hijau.

Yi Qiu berkata kepada mereka, "Walaupun bermain catur adalah hal yang kecil, namun jika kita tidak serius dalam belajar dan berlatih, tidak teliti dalam mengamati permainan lawan, tidak sabar dalam bertahan dan menunggu saat yang tepat melakukan serangan, kita tidak akan pernah berhasil. Kuncinya adalah konsentrasi penuh dan kita akan mendapat hasil yang lebih baik.

Hidup juga demikian, kita tidak boleh mengabaikan hal-hal yang tampak kecil, semua hal jika dilakukan dengan konsentrasi dan tekun dalam menghadapinya maka hasil yang didapat akan jauh lebih baik. Jika kurang konsentrasi dalam melakukan hal-hal yang kecil, tidak jarang kita bisa kehilangan sesuatu yang berharga."

Baca selengkapnya.....

Integritas Jauh Lebih Penting: Cerita Inspirasi Dari Negeri China

Saturday, September 19, 2009


Pada zaman Dinasti Tang (618-907 SM, ada seorang yang bernama Lu Yuan Fang. Karena situasi dan kondisi keluarganya yang sedang membutuhkan uang dan tidak ada jalan keluar untuk mendapatkan uang, maka ia berniat menjual miliknya yang terakhir, yakni sebuah vila lengkap dengan taman yang indah di kota Luo Yang.

Ada dua orang pedagang kaya yang mendengar berita bahwa vila di kota Luo Yang yang selama ini mereka kagumi akhirnya mau dijual. Karena itu, mereka berdua mencari tahu alamat Lu Yuan Fang. Setelah tiba di rumah Lu Yuang Fang mereka berdua langsung melakukan tawar-menawar. Setelah beberapa saat akhirnya disetujui harga vila itu adalah 6.000 keping uang emas. Dan, sebagai uang muka, kedua pedagang itu memberikan lima puluh keping uang emas.

Tidak disangka pada keesokan harinya, pejabat di kota Luo Yang meminta Lu Yuang Fang untuk menemuinya di kantor. Setelah bertemu di Luo Yang, pejabat tersebut berkata, "Saya mendengar bahwa kamu akan menjual taman Jin Xiu Yuan milikmu yang bagus itu. Saya memanggilmu ke sini karena saya ingin membelinya. Istri saya sudah sering sakit-sakitan dan sudah beberapa lama mencari sebuah vila dengan taman dan air yang bagus untuk ditinggali. Jika tinggal di tempat seperti itu, diharapkan kesehatan fisik dan psikisnya berangsur-angsur baik. Dan yang ia suka selama ini adalah vila Jin Xiu Yuan, milikmu."

Lu Yuan Fang tidak menyangka bahwa vila miliknya juga diminati oleh pejabat tinggi kota Luo Yang. Hanya saja, dia sudah terlanjur sepakat dengan kedua pedagang yang sudah memberikan uang muka lima puluh keping uang emas. Dengan berat hati ia menjelaskan, "Hamba sungguh mohon maaf. Sekalipun belum dibayar seluruhnya, saya sudah berjanji untuk menjualnya kepada kedua pedagang itu!"

Pejabat itu merasa diremehkan, lalu dengan suara keras berkata, "Walau dia sudah memberikan uang muka, akan saya ganti tiga kali lipat dan saya berikan padamu tiga kali lebih banyak dari harga yang kamu berikan kepada mereka. Bagaimanapun vila itu harus saya dapatkan."

Dengan tetap dalam sikap hormat Lu Yuan Fang menjawab, "Janji yang sudah diucapkan kepada orang lain tidak boleh dibatalkan hanya gara-gara bisa menerima uang yang lebih banyak. Saya ingin jadi orang yang bisa dipercayai walaupun utnuk itu saya tidak bisa menerima uang lebih banyak. Rumah ini tidak bisa dijual kepada Tuan!"

Berita Lu Yuan Fang menolak tawaran pejabat kota Luo Yang sampai ke telinga ibunya yang sudah tua. Ibu Lu Yuan Fang memanggilnya dan menasehatinya, "mengapa kamu tidak menjualnya pada pejabat itu. Harganya jauh lebih baik dan jika kamu menolak permintaannya, ibu khawatir suatu saat dia akan mencari gara-gara terhadap kita. Jual saja kepada pejabat itu!"

Melihat ibunya seperti itu, Lu Yuang Fang berlutut di depan ibunya dan memohon, "Yi Yan Ji Chu, Si Ma Nan Zhui (sekali kuda dilepaskan untuk keluar dari kandang, maka akan sangat sulit untuk dikejar kembali, artinya, sekali kita sudah mengucapkan janji kepada orang lain tidak boleh ditarik kembali). Bukankah Ibu dan Ayah yang mendidik kami untuk demikian. Ibu sendiri yang mendidik kami untuk menjadi orang yang punya integritas dan dapat dipercayai. Sekarang saya sudah berjanji kepada orang lain, walau harganya jauh lebih murah, lalu mengapa saya mau membatalkan secara sepihak?"

Ibunya tidak dapat berbuat apa-apa. Beberapa saat kemudian ia berkata, "Lu Yuan Fang, kamu adalah anak yang baik karena mau mengikuti pendidikan seperti yang telah diajarkan oranguta. Ibu salah, sekarang Ibu mendukung kamu untuk memenuhi janjimu pada kedua pedagang itu. Terus pertahankan dirimu untuk jadi orang yang dapat dipercayai!"


Baca selengkapnya.....

Dong Guo dan Serigala: Cerita Inspirasi Negeri China

Thursday, September 17, 2009




Dong Guo sedang melakukan perjalanan menuju negeri Zhong Shan untk mengurus sesuatu. Ia berjalan kaki sementara di punggung keledainya ada beberapa buku dan barang-barang bawaan lainnya. Berjalan dan terus berjalan sampai akhirnya Dong Guo sadar ia sudah salah jalan dan tersesat.

Sementara ia bingung arah yang seharusnya ditempuh, seekor serigala mendatanginya. Serigala itu berseru, "Tolong selamatkan aku, tolong salamatkan aku!"

Dong Guo balik bertanya, "Ada masalah apa denganmu, apa yang membuat kamu minta tolong kepada saya?"

Serigala itu menjawab, "Ada sekumpulan pemburu sedang mengejarku. Mereka bisa melukai dan membunuhku. Aku pernah mendengar bahwa Anda adalah orang yang sangat baik. Karena itu, aku mohon, tolong selamatkan aku. Aku pasti membalas budi baikmu!"

Setelah berpikir sejenak Dong Guo bertanya lagi, "Bagaimana saya bisa percaya bahwa kamu akan membalas budi, lagi pula jika para poemburu itu tahu saya menyembunyikan kamu, jangan-jangan saya pun akan celaka! Namun, saya selalu ingin berbuat baik. Sekarang saya akan menolongmu, hal yang lain itu urusan nanti."

Dengan segera Dong Guo mengeluarkan buku-buku dan barang bawaannya dan menyuruh serigala itu masuk dalam kantong barang tersebut untuk diletakkan di punggung keledai. Namun, sudah beberapa kali dicoba, serigala itu tidak juga bisa masuk dalam kantong itu. Semakin tidak bisa masuk, semakin membuat serigala itu khawatir dan takut. Lalu dengan hikmat terakhir Dong Guo menekuk ke empat kkaki serigala itu dan akhirnya bisa masuk juga.

Baru saja kantong itu diletakkan di atas punggung keledai, para pemburu datang dan bertanya kepadanya, "Apakah Tuan melihat seekor serigala lewat?"

Dong Guo menjawab, "Saya sedang salah jalan dan tersesat. Sekarang saya sedang bingung harus jalan ke arah mana. Karena itu, saya tidak terlalu memperhatikan apakah ada serigala lewat atau tidak."

Para pemburu itu pun percaya dan segera berlalu dari hadapannya.

Melihat para pemburu sudah berlalu dan merasa situasi sudah aman, Dong Guo melepaskan serigala itu. Begitu keluar serigala itu pun berkata, "Sungguh aku berterimakasih kepadamu karena telah menyelamatkan nyawaku. Namun, jika Tuan ingin menolong seharusnya menolong sampai tuntas!"

Dong Guo bingung mendengar ucapan itu. Ia bertanya, "Apa maksudmu menolong sampai tuntas?"

Serigala pun menjelaskan, "Aku sekarang sudah sangat lapar. Beri aku makanan atau biarkan aku memakanmu, karena dengan demikian Tuan sudah menolong saya sampai tuntas!"

Dong Guo terkejut dan mulai takut mendengar ucapan serigala itu. Sambil menjauh ia berkata, "Kok, bisa begitu? Di kolong langit ini tidak ada yang seperti kamu. Saya sudah menyelamatkanmu dari kematian tapi sekarang kamu mau makan saya? Jika kamu tetap mau makan saya, coba pergi dan cari tiga makhluk tua dan bertanya kepada mereka. Jika mereka setuju bahwa kamu boleh memakan saya, segera makanlah saya."

Serigala itu pun menyanggupi syarat yang diajukan Dong Guo. Ia membawa Dong Guo pergi ke satu pohon besar dan bertemu dengan tikus. Serigala itu menceritakan kepada tikus bahwa dia sudah ditolong oleh Dong Guo dan sekarang, karena lapar, ingin memakan Dong Guo.

Tikus itu menjawab, "Aku sudah dua puluh tahun membantu Tuanku untuk mengambil buah-buahan. Sekarang ketika aku sudah tua seperti ini, dia malah menjualku. Hidup memang begitu, sering kali kita harus menjumpai ketidakadilan. Karena itu aku setuju kalau serigala ingin memakan Tuan!"

Lalu mereka pun meneruskan perjalanan dan bertemu seekor sapi. Kejadian yang sebenarnya pun diceritakan kepada sapi. Setelah mendengarkan dengan seksama, sapi itu memberikan pendapatnya, "Seumur hidup susuku diperas oleh tuanku, sekarang ketika aku sudah tua dan tidak bisa memproduksi susu segar lagi, mereka merencanakan untuk menyembelih dan memakan dagingku. Karena itu, aku setuju bila serigala memakan tubuh Tuan!"

Sementara meneruskan perjalanan, Dong Guo semakin ketakutan dan juga mulai menerima kenyataan bahwa serigala yang ditolongnya malah mau memakan dirinya. Akhirnya mereka bertemu seorang yang tua. Orang itu mendengarkan dengan seksama semua cerita Dong Guo dan serigala.

Setelah menimbang-nimbang orang tua itu sambil mengernyitkan dahi bertanya, "Saya tidak habis pikir bagaimana mungkin serigala bisa masuk ke kantong sekecil ini? Jika saya dengan mata kepala sendiri bisa menyaksikan serigala ini masuk ke dalam kantong dan Tuan bisa mengangkat dia ke atas punggung keledai, maka saya setuju tubuh Tuan dimakan olehnya."

Mendengar itu, serigala merasa di atas angin karena sebentar lagi bisa memakan tubuh Dong Guo. Serigala itu berkata dalam hati, tadi aku bisa masuk sekarang juga pasti bisa!

"Ayo Tuan Dong Guo, silakan buka kantong Anda dan biarkanlah Pak Tua ini menyaksikan bahwa saya bisa masuk ke dalam kantong itu dan Tuan bisa angkat ke atas punggung keledai!" kata serigala bersemangat.

Dong Guo melipat keempat kaki serigala lalu memasukkan ke dalam kantongnya, setelah itu ia mengikatnya. Ketika hendak mengangkatnya ke atas punggung keledai, Pak Tua itu berkata, "Biar saya yang melakukannya!" Lalu Pak Tua itu dengan segera mengeluarkan tongkat kayunya dan memukulkannya berkali-kali ke kantong tersebut. Serigala itu meraung-raung dengan kerasa, namun suara raungan itu makin lama makin pelan sampai tak terdengar lagi. Serigala itu pun mati, dan Dong Guo bisa melanjutkan hidupnya.

Baca selengkapnya.....

Setiap Masalah Ada Jalan Keluar

Sunday, September 13, 2009




Pada Hari Raya Imlek atau Tahun Baru China, akan terdengar ucapan Selamat Tahun Baru di mana-mana. Selamat Tahun Baru dalam bahasa Mandarin diucapkan Guo Nian Hao. Sejak pagi-pagi orang sudah mulai Bai Nian, yakni pergi saling mengunjungi dan saling mengucapkan Guo Nian Hao. Pertama-tama mereka akan berkunjung ke kerabat dekat, kemudian relasi dekat, dan kemudian ke segenap handai tolan yang mereka kenal dan dapat mereka kunjungi. Mengapa mereka saling mengucapkan Guo Nian Hao, apa alasannya, dan dari mana asalnya serta kapan mulainya?

Pada zaman dahulu kala di negeri China ada sebuah desa yang sangat indah, aman serta tenteram. Penduduk di desa itu sangat ramah, suka menolong, saling menghormati, dan bersama-sama mereka hendak membuat desa itu makmur dan damai. Karena itu, desa tersebut dikenal sebagai Desa Cinta Damai, penuh berkat, dan bahagia. Penduduk desa yang harus bekerja di negeri jauh, selalu rindu pulang ke desanya dan menikmati damai bersama penduduk desa lainnya. Desa itu juga menjadi desa tauladan, sehingga desa-desa tetangga ingin membangun desa mereka seperti Desa Cinta Damai. Tak pernah ada pencuri, tak pernah di temui ada pengacau, bahkan yang luar biasa, tak pernah terjadi keributan antar tetangga.

Ketika membaca kisah ini dari berbagai versi, saya kira mirip dengan negeriku Indonesia pada zaman dahulu. Saya masih ingat lirik lagu yang menggambarkan hal itu "....mereka saling menghargai, saling menghormati hak asasi; mereka bernaung di bawah pusaka Garuda Pancasila dan Sang Saka Merah Putih lambang Indonesia."

Ketenteraman dan kedamaian Desa Cinta Damai suatu saat terusik, sejak saat itu Desa Cinta Damai berubah menjadi desa yang mencekam dan menakutkan. Hal itu membuat penduduk mulai meninggalkan Desa Cinta Damai, khususnya malam menjelang Tahun Baru China. Penyebabnya adalah seekor makhluk bernama Nian.

Pada kalender China bulan dua belas tanggal tiga puluh malam, makhluk raksasa itu selalu datang ke desa itu. Setiap kali datang, Nian selalu merusak ladang dan memakan tanaman, merusak kandang serta memakan hewan-hewan peliharaan. Penduduk desa telah berusaha keras mencegah datangnya Nian pada setiap malam Tahun Baru China; dan ketika Nian datang, mereka sudah berusaha untuk mengusir dan menghalaunya. Walau Nian hanya datang semalam, dampak yang ditimbulkannya sangat besar. Seisi desa porak poranda.

Keberingasan, kesadisan, serta kebrutalan Nian membuat penduduk ketakutan, bahkan menjadi trauma. Bayangkan, sawah, ladang, serta pemukiman menjadi berantakan. Burung-burung di pohon pun berkurang drastis, bunga rumput dan ilalang pun makin lama makin sedikit. Tahun demi tahun keadaan makin memprihatinkan.

Desa yang aman tenteram itu menjadi desa yang menakutkan dan memprihatinkan. Desa yang selalu ingin dikunjungi oleh penduduk dari desa-desa tetangga, berubah menjadi desa yang mengancam keselamatan pengunjungnya. Desa yang selalu dirindukan penduduknya pada saat mereka jauh, khususnya untuk berkumpul bersama pada malam Tahun Baru China, kini telah berubah menjadi desa yang dihindari.

Desa Cinta Damai menjadi desa angker penuh nestapa. Oleh karena itu, penduduk yang masih tinggal dan belum pindah ke desa-desa lain, akan meninggalkan desa itu khususnya pada tanggal 30 bulan dua belas kalender China.

Di desa itu tinggal satu keluarga yang bertahan, bahkan berniat mengembalikan suasana desa tersebut seperti sedia kala. Namun, rasa takut masih menghantui mereka. Keputusan pindah atau tidak pindah menjadi pergulatan batin yang tidak mudah bagi mereka.

Suatu saat mereka sampai pada keputussan untuk pindah; namun belum sempat niat itu terwujud, Nian sudah tiba di desa tersebut. Seperti kesetanan, ia memporak-porandakan desa itu. Akan tetapi, saat itu tidak ada lagi tumbuhan yang bisa dimakan, tidak ada lagi hewan untuk disantap, membuat kebrutalan dan keberingasan Nian makin menjadi-jadi. Ia membongkar rumah demi rumah penduduk untuk mencari apa saja yang bisa di makan. Kalau tidak tumbuhan dan hewan, Nian juga bisa memakan manusia yang ditemukannya.

Satu per satu rumah sudah di bongkar dan hanya tersisa beberapa lagi, termasuk rumah dari keluarga yang masih bertahan itu. Ayah, ibu, dan anak-anak dalam keluarga itu pun berdiskusi. Sebab, cepat atau lambat Nian pasti akan sampai di rumah mereka. Memikirkan hal ini, mereka menjadi takut karena jika Nian tidak menemukan apa-apa, pasti tubuh merekalah yang akan menjadi santapannya.

"Ayo cepat kita melarikan diri, jangan membawa barang apa pun, yang penting kita sekeluarga bisa selamat," demikian teriak sang ayah. Mereka segera berlari ke luar rumah dan bertekad seisi keluarga dapat selamat. Namun, sang ibu tidak rela meninggalkan peralatan dapur dan perabot rumah kesukaannya. Maka, ia membawa banyak peralatan dapur dan perabot rumah. Ada gelas, piring, baskom, ember, dan sebagainya. Barang-barang itu sangat banyak, maka ayah dan anak-anaknya pun membantu sang ibu.

Namun karena ada barang yang harus di bawa, lari mereka pun menjadi sangat lambat. Nian makin lama makin mendekat, dan anak-anak mulai berteriak ketakutan dan panik. Barang-barang bawaan sang ibu pun di lempar satu per satu sambil tetap berteriak tanpa menoleh ke belakang.

"Prang...! Klontang........! Pang.....! Piung..!"

Barang-barang yang dilemparkan itu menimbulkan suara yang memekakkan telinga.

Ketika barang-barang sudah habis, sang ayah pun menggendong anaknya yang paling kecil dan terus berlari menyelamatkan diri. Setelah beberapa puluh langkah lagi, mereka merasa tidak mampu berlari lagi. Dan, pada saat yang bersamaan tidak terdengar suara Nian lagi. Mereka pun berhenti berlari dan memberanikan diri untuk menoleh ke belakang. Sungguh ajaib, Nian benar-benar sudah tidak ada.

Namun, setelah dilihat dengan teliti dan seksama, ternyata makhluk itu masih berdiri di balik sebuah pohon dengan raut muka yang ketakutan.

Merasa mantap, dengan sisa-sisa tenaga yang ada, sang ayah pun berteriak memanggil penduduk desa agar masing-masing membawa barang yang jika dijatuhkan bisa menimbulkan suara gaduh. Ia sendiri berlari kembali dan mengambil barang-barang yang sudah dibuangnya.

Nian tampak tidak bereaksi. Sang ayah dengan keras memukul loyang. Dan bersamaan dengan itu penduduk mulai datang, juga memukulkan barang-barang bawaan mereka. Suara yang ditimbulkan pun tambah gaduh dan berisik. "Dang.....dang....klontang...pang....pung......" sahut-menyahut.

Nian mulai panik. Makin lama makin ketakutan.Akhirnya ia memutuskan untuk mengambil langkah seribu, lari terbirit-birit. Makhluk menakutkan itu berlari sekencang mungkin dan sejauh mungkin.

Legalah hati keluarga itu. Mereka sangat bergembira. Mereka bukan hanya tidak jadi pindah ke desa tetangga, tetapi juga berhasil membuat Nian ketakutan dan lari tunggang-langgang.

Akhirnya, penduduk tersebut kembali membangun desa mereka dengan tenang dan membuat keadaan seperti sedia kala. Lambat laun, penduduk desa yang sudah mengungsi, pulang kembali ke desa mereka.

Sejak saat itu mereka saling mengucapkan Guo Nian Hao. Untuk mencegah Nian datang kembali, seluruh penduduk desa, tua-muda, besar-kecil, akan memukul benda-benda dapur dan perabotan sekeras mungkin pada tanggal 30 bulan dua belas malam. Esok harinya mereka akan dengan sukacita menikmati hari raya Imlek dan saling mengucapkan Guo Nian Hao.

Tahun demi tahun mereka membunyikan perabotan rumah tangga dan akhirnya digantikan dengan petasan pada dewasa ini dengan maksud agar hal yang menakutkan tidak mengganggu mereka dalam menikmati tahun baru.


Baca selengkapnya.....

Zhao Pu Senang Belajar: Cerita Inspirasi Dari Negeri China

Wednesday, September 09, 2009




Salah satu orang terpenting bagi kemajuan Kerajaan Bei Song adalah Zhao Pu. Dia seorang ahli politik dan berperan besar dalam mempersatukan negeri China. Karena itu rakyat menyebutnya," Zhong Yao Ren Wu Zhi Yi" yang berarti salah satu dari orang-orang terpenting (di negeri China).

Sebenarnya, sewaktu Zhao Pu membantu kerajaan, ia bukanlah orang yang terpelajar. Ia bahkan dikenal sebagai orang yang malas belajar. Akan tetapi, suatu hari ada orang yang menasihatinya, "Jika kamu benar-benar ingin membantu kerajaan, kamu harus rajin membaca banyak buku. Membaca buku merupakan cara belajar yang sangat baik."

Nasihat itu sungguh menyentuh hatinya dan menyadarkannya sehingga ia bertekad untuk membaca banyak buku guna mengejar banyak pengetahuan dan kebijaksanaan baginya karena ia sudah tertinggal jauh dari orang-orang selevelnya.

Ia mulai mengumpulkan buku-buku yang kemungkinan bisa berguna untuk membangun dirinya dan juga bangsanya. Ia rajin mencari tahu buku penting dan berguna untuk dibaca. Setelah terkumpul cukup banyak, mulailah ia membaca buku-buku tersebut.

Karena urusan kerajaan sangat banyak, ia tidak memiliki cukup waktu untuk membaca buku. Tetapi pada malam hari, kendatipun sudah lelah, ia bersikeras untuk bisa membaca buku. Lama kelamaan telah banyak buku bagus yang dibacanya, dan pengetahuannya pun melebihi orang lain. Bahkan, ia memperoleh banyak hikmat untuk memecahkan berbagai persoalan negara dan masyarakat. Salah satu buku yang paling mempengaruhinya adalah Lun Yu. Buku itu adalah salah satu karya sastra yang memiliki nilai tinggi di negeri China. Lun Yu ditulis oleh murid-murid Kong Zi. Lun Yu berisi semua kalimat yang diajarkan Kong Zi kepada para muridnya.

Pada suatu malam ada beberapa masalah negara yang mendesak untuk dicarikan solusinya. Karena itu, Raja Song Tai Zu mengundang beberapa orang bijak untuk membantu memecahkan masalah tersebut. Sumbangan pikiran para orang bijak sungguh bermanfaat, tetapi ada beberapa masalah yang tidak bisa dipecahkan.

Tiba-tiba Raja Song Tai Zu teringat bahwa beberapa tahun terakhir Zhao Pu membaca banyak buku, mungkin ia bisa membantu. Lalu Raja bersama beberapa orang pergi ke kediaman Zhao Pu. Setiba di sana, Raja mendapati Zhao Pu sedang membaca buku.

Raja Song Tai Zu bertanya kepadanya, "Sudah larut malam begini mengapa masih membaca buku. Buku apa yang kamu baca saat ini?"

Zhao Pu menjawab, "Saya sedang membaca satu bagian dari buku Lun Yu yang berjudul Lu Lun!"

Raja dengan terheran-heran berkata, "Lu Lun adalah bacaan bagi setiap anak yang baru bisa membaca. Mengapa baru sekarang kamu membacanya?"

Zhao Pu menjawab, "Karena Lu Lun adalah bacaan bagi setiap anak yang baru bisa membaca, makanya sering tidak dipelajari secara mendalam. Lu Lun sering dianggap remeh dan tidak didalami oleh setiap orang. Padahal, sesungguhnya kita tidak boleh melihatnya secara sederhana. Jika kita mempelajarinya secara mendalam, ada banyak persoalan hidup, persoalan keluarga, bahkan persoalan negara yang bisa dipecahkan dengan prinsip-prinsip yang ada di dalamnya! Dalam membuat strategi dan memecahkan persoalan politik pun prinsip-prinsip dalam Lu Lun sangat berguna."

Zhao Pu kemudian menjelaskan beberapa contoh pemecahan masalah yang diangkatnya dari prinsip dalam bab Lu Lun. Raja terkagum-kagum akan semua penjelasan Zhao Pu. Karena itu, ia mengundangnya untuk ikut mencari jalan keluar atas beberapa masalah yang harus segera dipecahkan.

Singkatnya, semua persoalan kerajaan pada saat itu yang belum terpecahkan bisa dicarikan solusinya olah Zhao Pu. Jalan keluar yang diusulkannya sungguh-sungguh berguna untuk membantu jalannya pemerintahan.




Baca selengkapnya.....

Ketabahan: A Free Inspiration From Mao Tse Tung

Saturday, September 05, 2009




Cerita yang ditulis oleh Mao Tse Tung, mantan ketua Partai Komunis China, berikut ini, merupakan satu hal yang seharusnya membuat kita terinspirasi.

Di masa lampau, suatu kali ada orang tua dari bagian utara China, hidup di sisi sebuah gugusan gunung yang selalu berada dalam bayang-bayang. Masalahnya, ada dua gunung besar di depan pintu rumahnya yang menghalangi cahaya matahari masuk ke rumahnya. Suatu hari orang tua tersebut memanggil anak-anak lelakinya dan berkata kepada mereka, "Mari pergi dan memindahkan gunung-gunung itu dengan mencangkulnya, sehingga cahaya matahari bisa masuk ke rumah kita tanpa terhalang." Seorang tetangga orang tua yang mendengar rencana ini menganggapnya lucu. Dia bilang kepada orang tua tadi, "Aku tahu bahwa kamu itu bodoh. Bahkan aku tak pernah sadar bahwa kebodohanmu tak terbatas. Bagaimana mungkin di bumi ini untuk memindahkan gunung-gunung tinggi hanya dengan mencangkulnya?".

Orang tua tadi menjawab dengan penuh keseriusan, "Ya, kamu benar. Tapi ketika aku mati, anak-anakku akan mencangkul, dan setelah mereka meninggal, anak-anak mereka akan mencangkul. Proses mencangkul tersebut akan terus berlangsung beberapa keturunan. Gunung, yang seperti kau tahu, ukurannya tak akan bertambah, sementara setiap cangkulan akan mengurangi ukurannya, dan pada akhirnya dengan cara ini, akan datang masanya ketika kami berhasil memindahkan rintangan-rintangan ini." Kekuatan untuk menyelesaikan masalah, selalu lebih berarti dibanding masalah itu sendiri. Ketika masalah tak terbatas banyaknya, penyelesaiannya juga tak terbatas. Selalu ada banyak pendekatan yang berbeda, yang secara alami bermacam-macam, baik dalam ukuran dan kerumitannya.

Cerita di atasa merupakan gambaran yang indah tentang perlunya perbuatan-perbuatan utama. Tidak hanya rencana jangka panjang tetapi keinginan dan ketetapan hati untuk melaksanakan rencana tersebut menjadi kenyataan.

Bagi seseorang yang memiliki ketetapan jiwa, untuk melaksanakan rencana mereka dari satu generasi ke generasi berikutnya, bekerja terus menerus dan ulet, maka sesungguhnya tak ada gunung atau sungai di bumi yang tak bisa mereka tundukkan.


Baca selengkapnya.....

Free Inspiration Story: Dokter dan Harimau

Thursday, July 30, 2009



Dahulu kala, disebuah lembah gunung besar di China, ada seorang dokter tua yang sangat ahli dalam mengobati orang yang sakit. Tidak perduli seseorang menderita penyakit apa, asal datang kedokter ini dan meminum obat ramuannya, maka beberapa hari kemudian pasti akan sembuh. Orang dari berbagai penjuru negeri datang untuk berobat padanya dan disembuhkan. Karena itu, orang-orang sangat menghormatinya.

Suatu hari dokter tua itu pergi untuk mengobati orang-orang sakit dari rumah ke rumah. Ketika matahari terbenam barulah ia pulang. Sewaktu tiba di depan rumahnya, ia melihat ada barang hitam besar di depan pintunya. Waktu itu hari sudah gelap sehingga benda hitam itu tidak terlihat jelas. Pelan-pelan ia mendekati benda itu. Dokter tua itu kemudian terkejut karena ternyata benda hitam itu adalah seekor harimau besar.

Karena kaget dan takut, dokter tua itu segera balik badan dan ambil langkah seribu. Namun malang baginya, harimau itu dengan cepat bisa menangkap jubahnya dan ia tidak bisa berlari lagi. Dalam hati ia berpikir," Tamatlah riwayatku, hari ini aku jadi santapan harimau besar yang tampak lapar ini!"

Namun anehnya, harimau itu tidak menerkam dan menggigit dokter tua itu, melainkan menggoyang-goyangkan ekornya mirip seekor anjing yang bertemu dengan tuannya. Harimau itu juga menggoyangkan kepala dan badannya seolah ingin berkata kepada dokter, tetapi ia tidak bisa berbicara. Jika ada auman harimau dari dalam hutan, harimau itu pun terlihat agak takut. Setelah tenang, dokter tua itu berkata," Harimau, kamu pasti tidak datang supaya saya mengobati penyakitmu, kan?" Seperti mengerti, harimau menggelengkan kepalanya. Harimau memberikan isyarat dan dokter tua itu mengerti bahwa ia harus mengikuti harimau itu ke dalam hutan di sebuah gunung. Sesampai di sarangnya, tampak ada harimau betina yang kesulitan melahirkan. Dokter itu mengamati dengan seksama dan akhirnya mengerti. Ia berkata lagi kepada harimau itu, "Aku mengerti, kamu mau melahirkan anak, ya. Ayo aku akan menolongmu!" Dengan sigap dokter itu memberikan obat kepada harimau betina itu.

Setelah itu ia mulai mengurut perut harimau betina itu. Tidak lama berselang lahirlah dua ekor anak harimau. Setelah istirahat sebentar dokter itu pun memberi isyarat kepada harimau bahwa ia akan pulang. Harimau mencegahnya dan membawakan sebuah kipas. Dokter itu tersenyum dan berkata ,"Tidak perlu, saya biasa menolong orang yang sakit dan saya tidak mau menerima hadiah. " Harimau itu pun mengaum keras dua kali seakan-akan berkata bahwa dokter itu harus menerima kipas pemberiannya. Dokter itu mengerti maksud si harimau dan pulang dengan membawa kipas.

Beberapa hari kemudian udara sangat panas, tetapi ia harus berjalan ke kota. Karena itu, dia menggunakan kipas pemberian si harimau untuk mengusir udara panas. Namun, setiba di pintu gerbang kota, beberapa orang menangkapnya dan mengikatnya. Ia bertanya, "Apa yang terjadi, apa salah saya?" Ternyata orang-orang itu baru saja membunuh dan merampas harta seseorang. Dan kipas itu sebenarnya adalah kipas milik orang tersebut yang hilang di jalan.

Dokter itu mengerti kini bahwa kipas itu hilang kemudian di ambil oleh harimau dan di berikan kepadanya. Orang itu berkata kepada dokter itu," Saya baru saja membunuh orang dan merampas harta orang." Maksudnya, dia orang yang jahat dan kuat, kenapa berani-beraninya dokter itu mengambil kipas miliknya. Baru saja orang itu menggertak dokter itu, tiba-tiba datanglah harimau besar menyerang orang-orang itu. Orang-orang itu tidak punya kekuatan yang cukup untuk melawan harimau besar tersebut. Mereka akhirnya lari tunggang langgang. Harimau itu pun mendekati dokter itu, melepaskan ikatannya, dan mengantarkannya pulang dengan selamat.

Baca selengkapnya.....

Cerita Inspirasi: Dua Dokter Yang Berseteru

Saturday, July 18, 2009


Di kota Su Zhou, pada zaman Dinasti Qing, ada dua orang dokter yang sangat terkenal karena keahlian mereka dalam pengobatan. Seorang dokter bernama Ye Tian Shi dan seorang dokter yang lain bernama Xue Xue. Mereka berdua saling membantu dalam memecahkan masalah sehingga keahlian mereka berkembang dengan sangat baik. Jika ada kasus penyakit tertentu dan yang seorang tidak tahu dengan pasti, maka ia akan meminta nasihat atau pendapat dari yang lain dalam mengatasi penyakit tersebut. Karena mereka saling membutuhkan, maka setelah dipikir-pikir mereka akhirnya membuka klinik bersama. Banyak pasien yang tertolong jika pergi ke klinik mereka. Namun, karena suatu masalah kecil kedua dokter yang bersahabat itu akhirnya berpisah. Dua orang yang sudah jadi sahabat baik akhirnya bermusuhan, bahkan kini mereka saling menjelekkan dan saling membenci.

Suatu hari, setelah lama sekali tidak berkomunikasi, Xue Xue melakukan perjalanan yang harus melewati rumah Ye Tian Shi. Sewaktu melewati depan rumah sahabatnya yang kini jadi musuhnya, Xue Xue mencium bau yang aneh dan kurang sedap, karena itu ia segera menutup hidungnya. Karena pegawai Ye Tian Shi kebetulan ada di luar rumah, maka Xue Xue pun bertanya dan mencari tahu tentang Ye Tian Shi. Ternyata ibu Ye Tian Shi sedang sakit parah. Untuk mengobatinya, Ye Tian Shi mengumpulkan banyak obat di dalam satu kamar. Salah satu obat di dalam kamar obat itu adalah Hong Pi, yang sangat dibutuhkan untuk menyelamatkan nyawa ibunya, tetapi obat itu bau sekali. Ibu Ye Tian Shi sama sekali tidak ingin meminum obat Hong Pi itu dan karena itu tubuhnya makin lemah, penyakitnya makin parah, dan nyawanya di ujung tanduk.

Waktu itu ada satu kebiasaan, yakni seorang dokter tidak sampai hati memberikan obat yang keras atau pengobatan yang penting dan khusus untuk keluarga dekat. Karena itu, biasanya seorang dokter akan meminta dokter lain untuk mengobati keluarga dekatnya dengan pengobatan khusus dan memberi obat yang keras. Dari informasi yang di dapat, Xue Xue sedang mencari dokter lain untuk mengobati ibunya. Ye Tian Shi tidak mencari Xue Xue karena mereka bermusuhan, sementara di Su Zhou tidak ada dokter lain yang mampu mengobati ibunya kecuali Xue Xue. Namun karena rasa benci, ia mencoba mencari dokter ke luar daerah.

Sementara itu, Xue Xue pun berbicara," Salah sendiri mengapa Ye Tian Shi menyakiti perasaanku. Sekarang aku tidak akan membantunya, biar ibunya semakin tidak tertolong dan dia akan sadar bahwa dia sebenarnya membutuhkanku. Biar dia tahu rasa sekarang.!"

Baru saja Xue Xue berpikir demikian, dirinya menjadi tidak tenang karena di dalam hatinya ada suara yang menentang sikapnya. "Tidak betul, seorang dokter harus rela dan berinisiatif untuk mengobati orang yang sakit, apalagi yang sudah dalam keadaan darurat. Jika nanti kamu sendiri yang mengalami masalah seperti ini, kamu juga pasti akan mencari Ye Tian Shi!"

Akhirnya ia masuk ke rumah Ye Tian Shi dan memeriksa dengan teliti penyakit ibu Ye Tian Shi. Setelah beberapa saat, ia pun menulis resep. Resep yang dibuatnya sebenarnya tidak jauh beda dengan apa yang di tulis oleh Ye Tian Shi, yakni ada juga obat Hong Pi di dalamnya. Ibu dari Ye Tian Shi mau meminum obat yang dibuat Xue Xue dan beberapa saat kemudian sembuh dari penyakitnya.

Ye Tian Shi, yang mencari dokter di tempat lain, baru pulang ke rumah dan tidak ada dokter yang bisa datang ke rumahnya. Dan ia pun tahu bahwa Xue Xue datang khusus ke rumahnya untuk mengobati ibunya. Kebetulan saat itu Xue Xue juga ada di rumahnya, karena itu dengan segera ia menyalami tangan Xue Xue dan berulang kali mengucapkan terimaksih.

Sejak saat itu mereka berdua berdamai kembali. Persahabatan mereka pun lebih dalam daripada sebelum mereka bermusuhan.



Baca selengkapnya.....

Ibu Meng Zi yang Bijaksana: Cerita Inspirasi

Thursday, July 09, 2009


Di negeri China pernah hidup seorang filsuf besar bernama Meng Zi. Kebijaksanaan dan hikmatnya membuat sebagian besar orang China mensejajarkan kualitas Meng Zi dengan Kong Zi, karena itu mereka sering menyebut kedua filsuf itu secara bersamaan dengan sebutan, "Kong Meng".

Pada waktu Meng Zi masih anak-anak, ayahnya meninggal dunia. Ibunya membesarkannya dengan kondisi yang sangat sulit. Karena ia mencintai mendiang suaminya, Ibu Meng Zi pindah rumah di dekat makam suaminya. Karena dekat, dari rumah mereka sering terdengar orang meratap sambil memukul-mukulkan tangan kebenda-benda di dekatnya. Melihat di sekitarnya ada pemandangan yang seperti itu, Meng Zi sering berada di dekat orang-orang yang sedang meratap. Bagi Meng Zi, ikut-ikutan sedih seperti permainan yang mengasikkan. Ibu Meng Zi sering memperhatikan perilaku anaknya itu. Ia berpikir bahwa ini tempat yang kurang baik bagi pertumbuhan anaknya, maka ia membawa Meng Zi pindah ke kota.

Di kota bnyak sekali pedagang. Para pedagang suka berteriak menawarkan dagangan dan suka minum bir serta sering mengucapkan janji-janji palsu dalam menawarkan dagangannya. Bagi Meng Zi hal tersebut menarik, karena itu ia mulai minum bir, berteriak menawarkan dagangan, dan mengucapkan janji-janji gombal ala pedagang itu. Ibu Meng Zi resah dan berpikir bahwa tempat ini tidak terlalu baik bagi perkembangan moral dan perkembangan pengetahuan anaknya. Setelah berpikir matang soal tempat yang paling ideal untuk anaknya, ia memutuskan untuk pindah dekat sekolah.

Dari sekolah tersebut ia bisa mendengar suara guru yang sedang mengajar. Lagi pula di sekolah itu ada perpustakaan sehingga ia berharap anaknya, bisa belajar banyak hal yang berguna untuk hidupnya. Disitu juga banyak murid sekolah sehingga diharapkan Meng Zi akan terdorong untuk bersekolah dan rajin belajar. Meng Zi pun terpengaruh. Tiap hari ia berusaha mendengarkan ajaran yang disampaikan oleh guru. Banyak buku kebijaksanaan dan ilmu pengetahuan dipelajarinya dengan tekun. Ia juga berdiskusi dengan murid-murid yang ada di sekolah itu. Hari demi hari, tahun demi tahun, Ibu Meng Zi sangat gembira meliha anaknya begitu suka belajar-mengajar. Dalam hatinya ia berkata, "Ini memang tempat yang tepat untuk anak saya tumbuh".

Karena kesukaannya belajar, berdiskusi, dan membaca buku, Meng Zi berkembang menjadi orang yang sangat dikagumi kepintaran dan hikmatnya. Bahkan, dewasa ini ia dikenal sebagai seorang filsuf besar negeri China di samping Lao Zi dan Kong Zi.

Baca selengkapnya.....

Kong Zi Berguru pada Anak Kecil: Cerita Inspirasi dari Negeri China


Pada zaman China kuno ada seorang anak ajaib yang sangat terkenal. Anak itu bernama Xiang Tuo. Ia sangat pintar, namun ia terkenal bukan hanya karena kepintarannya, tetapi karena Kong Zi, filsuf dari negeri China pernah belajar darinya saat usia Xiang Tuo belum genap tujuh tahun. Bahkan, Kong Zi pernah meminta Xiang Tuo menjadi gurunya.

Kong Zi pergi ke berbagai tempat dan berbagai negeri untuk mengajar. Suatu saat ketika dalam perjalanan, dari atas kereta ia menyaksikan ada tiga anak sedang bermain pasir dan membangun gunung pasir. Ia sangat tertarik menyaksikan ketiga anak itu bermain, terutama pada seorang anak yang begitu gembira dalam bermain. Anak itu sedang membuat semacam rumah yang dikelilingi benteng. Anak istimewa itu bernama Xiang Tuo.

Kereta yang ditumpangi Kong Zi harus berhenti karena Xiang Tuo bermain di jalan yang akan dilewati Kong Zi. Anak-anak itu terus bermain seolah-olah tidak ada kenderaan yang akan lewat,walau kereta Kong Zi suda ada tepat di hadapan mereka. Karena tidak ingin mengganggu kegembiraan anak-anak, Kong Zi turun dan mendekati anak-anak itu.Setelah beberapa saatKong Zi berkta dengan lembut kepada Xiang Tuo, "Kamu bermain begitu gembira sampai tidak bisa melihat ada kereta yang maulewat, apakah kamu tidak sadar bangunan pasirmu menghalangi jalan?"

Xiang Tuo bangkit dan balik bertanya, "Dari dulu, setahu saya, sebuah kenderaan hanya bisa melewati jalan atau mengitari sebuah kota. Di manakah ada sebuah kota khusus membuat jalan buat sebuat kenderaan?" Kong Zi terkejut. Belum pernah seorang anak umur tujuh tahun bisa berdebat layaknya seorang ahli pikir.

Sementara anak itu terus bermain, Kong Zi berpikir. Ia lalu mendekati Xiang Tuo untuk menguji kepintarannya. "Baik, ucapanmu sungguh masuk akal dan benar. Sekarang saya ada beberapa pertanyaan, apakah kamu bisa mengingat semua pertanyaan ini dan menjawabnya dengan baik. Gunung apa yang tidak ada batunya? Kumpulan air apa yang tidak ada ikan di dalamnya? Pintu apa yang tidak bisa ditutup? Api apa yang tidak ada asapnya? Wanita macam apa yang tidak punya suami? Kapan siang hari terasa pendek? Kapan siang hari terasa panjang? Manusia apa yang tidak punya anak?" Tak terasa Kong Zi mengajukan empat puluh pertanyaan sekaligus.

Namun, Xiang Tuo mendengarkan semua pertanyaan Kong Zi. Tanpa banyak berpikir ia mulai menjawab, "Gunung pasir tidak mempunyai batu! Air minum tidak ada ikannya! Pintu yang tidak ada daun pintunya tidak bisa ditutup! Api amarah tidak ada asapnya! Siang hari terasa singkat pada musim dingin karena setelah pukul tujuh pagi baru mulai terang dan pukul empat sore sudah mulai gelap! Siang hari akan terasa lebih panjang saat musim panas, karena pukul lima pagi sudah terang dan diatas pukul delapan malam baru gelap!" Tak terasa empat puluh macam pertanyaan Kong Zi dijawabnya dengan baik dan lancar.

Semua jawaban Xiang Tuo terasa mudah bagi anak-anak sekarang, namun pada masa itu, khususnya untuk anak yang belum genap berumur tujuh tahun, itu merupakan jawaban yang luar biasa. Apa lagi, Xiang Tuo dapat mengingat semua pertanyaan itu dengan baik tanpa harus menuliskannya di buku tulis atau mencatatnya di komputer, serta dapat menjawabnya dengan urutan yang benar dan teliti. Untuk yang terakhir ini, sulit menjumpai anak sekarang bisa mengingat semua itu. Karena itu, Kong Zi mengangguk-anggukkan kepala dan berkata," Sungguh hebat dan ajaib!"

Xiang Tuo sama sekali tidak tahu bahwa yang dihadapinya adalah seorang filsuf yang sudah kesohor dan sangat disegani pada zaman itu. Xiang Tuo pun balik bertanya dengan pertanyaan yang susah dijawab dengan cepat oleh Kong Zi. Karena itu, Kong Zi berkata padanya,"Pengetahuanmu sangat luas dan dalam. Di kereta saya ada papan catur (catur China), mari ikut saya dan kita bertaruh apakah kamu bisa memenangkannya?"

Xiang Tuo sambil menggeleng-gelengkan kepala menjawab,"Aku tidak ingin bertaruh denganmu!"

Kong Zi mengernyitkan dahi dan bertanya, " Mengapa?"

Xiang Tuo menjawab, "Bertaruh adalah pekerjaan yang membosankan, karena itu tidak ada gunanya. Lagi pula bertaruh banyak ruginya daripada untungnya. Sering orang bertaruh kehilangn akal sehatnya dan tidak bisa membedakan mana yang perlu dan mana yang tidak perlu. Pendidik yang suka bertaruh akan membuatnya malas membaca buku, padahal itu penting untuk pekerjaannya. Petani yang suka bertaruh akan kurang konsentrasi untuk bercocok tanam dan hasil taninya akan jelek. Manajer yang suka bertaruh akan tidak tidak punya hati untuk menyelesaikan semua masalah kerjanya. Raja yang suka bertaruh akan mengabaikan rakyatnya!"

Kong Zi terkesima dan kagum saat mendengar semua perkataan yang menakjubkan dari Xiang Tuo. Karena itu, ia bertanya kepada Xiang Tuo, "Maukah kamu jadi guru saya?"

Sejak saat itu kepintaran dan hikmat Xiang Tuo yang tinggi terkenal ke berbagai tempat dan negeri, khususnya yang dikunjungi oleh Kong Zi. Sementara Kong Zi makin dihormati karena ia mau belajar dari seorang anak yang masih bau kencur.








Baca selengkapnya.....

Jangan Menyerah di Tengah Jalan

Saturday, June 27, 2009


Di Propinsi Henan ada seorang yang sangat terpelajar bernama Yue Yang. Ia mempunyai istri yang bukan hanya pandai, tetapi juga bijaksana dan terampil. Walaupun saat itu mereka berdua tidak memiliki uang banyak, mereka dapat hidup bahagia.

Suatu pagi, Yue Yang diberi masukan oleh istrinya, "Suamiku, kamu adalah seorang yang terpelajar dan suka sekali membaca buku. Tetapi seharian membaca buku saja dari waktu ke waktu juga tidak baik. Jika kamu bijak coba amalkan pengetahuanmu yang banyak itu dalam kehidupan bermasyarakat. Hanya dengan cara demikian kamu akan menjadi lebih pandai dan bijaksana serta pengetahuanmu akan sangat berguna. Pergilah keluar dan temuilah orang-orang, jika mereka punya masalah coba bagaimana kamu menyelesaikan dengan apa yang sudah kamu pelajari! Selain itu diluar sana kamu bisa menuntut pengetahuan dan belajar dari orang-orang yang pantas."

Setelah berpikir panjang, Yue Yag pun berkemas dan membawa bekal untuk pergi ke kota, tempat ia bisa bertemu dengan banyak orang. Ia ingin pergi untuk mengamalkan ilmu dan juga untuk bisa belajar banyak. Karena itu, walaupun ia sangat rindu pulang ke rumah, ia selalu teringat perkataan istrinya agar ia bisa lebih maju lagi. Ia tetap menguatkan hati ketika rasa kangen mengganggu dirinya. Tidak terasa sudah setahun ia meninggalkan rumahnya dan ia sudah pergi ke banyak tempat dan menjumpai banyak orang. Pengetahuan Yue Yang pun bertambah luas dan hikmahnya bertambah dalam. Tetapi karena sudah tidak bisa menahan rindu untuk bertemu istri yang sangat dicintainya, maka ia pun pulang ke rumah.

Sesampainya di rumah, Yue Yang memutuskan untuk membuat istrinya terkejut. Karena itu, ia pun masuk dengan mengendap-endap. Pintu ia buka secara hati-hati agar tidak mengeluarkan suara. Di dalam rumah tampak istrinya sedang menyulam. Istrinya tidak menyadari bahwa suaminya sudah ada di belakangnya. Ia terus sibuk menyulam kain. Setelah tepat di belakang tubuh istrinya, Yue Yang dengan tersenyum lebar berteriak,"Istriku, aku sudah pulang!"

Istrinya kaget namun merasa gembira suami yang sudah lama ditunggu-tunggu akhirnya ada di hadapannya. Mereka pun berpelukan, dan bercerita dari hati ke hati sepanjang hari.

Setelah beberapa hari istrinya bertanya serius kepadanya,"Apakah kamu sudah berhasil? Apakah pengetahuan dan hikmahmu sudah cukup banyak?"

Yue Yang pun menjawab,"Aku sudah banyak belajar tetapi tentu saja pengetahuan dan hikmatku belum cukup banyak! Tetapi aku tidak kuasa menahan rindu lagi, jadi aku memutuskan untuk pulang dan merasa cukup."

Mendengar jawaban suaminya, istrinya pun segera pergi ke tempat menyulam kain yang sudah setengah jadi. Ia mengambil gunting dan memotong-motongnya secara sembarangan, dan kain itu pun tidak beraturan lagi.

Dengan kaget dan tidak dapat memahami apa yang dibuat istrinya, Yue Yang bertanya, "Ada apa denganmu? Sudah susah payah menyulam sampai setengah jadi begini, lalu kamu gunting-gunting dan merusaknya. Kalau begini kain itu sudah tidak berguna lagi, lagi pula sayang sekali waktu, pikiran dan tenaga yang sudah kamu gunakan untuk menyulam kain ini."

Istrinya pun menjelaskan apa maksudnya,"Kamu merasa sayang sekali kalau kain ini saya rusak, kan? Sebenarnya kain yang sudah disulam separuh dan potongan kain ini sama saja tidak ada gunanya. Kain setengah jadi belum bisa digunakan untuk membuat sebuah baju demikian juga dengan potongan kain ini. Kamu belajar baru separuh sudah tidak berniat lagi belajar karena rindu rumah. Kamu harus bisa menguasai dirimu agar belajar sampai cukup berguna. Kalau tidak, apa yang kamu pelajari tidak ada bedanya dengan kain setengah jadi yang saya potong-potong ini; sama-sama tidak berguna."

Setelah mendengar apa yang dikatakan, Yue Yang pun mengerti apa maksudnya. Ia berkemas dan pergi lagi untuk belajar sampai cukup. Yue Yang terus belajar sampai menjadi ilmuwan dan ahli dalam pendidikan. Tidak terasa ia sudah tujuh tahun pergi meninggalkan rumah dan tidak pernah bertemu dengan istrinya. Setelah sukses dalam belajar dan berguna bagi orang, maka ia pun melangkah mantap untuk menjemput istrinya.

Di kemudian hari, tindakan istrinya itu menjadi sebuah idiom; BAN TU ER FEI. JANGAN MENYERAH DI TENGAH JALAN !!!



Baca selengkapnya.....

Sun Kang yang Gemar Membaca

Wednesday, June 17, 2009


Penduduk di negeri China suka sekali belajar. Salah satu kisah yang sering digunakan oleh guru dan orangtua untuk memotivasi seorang anak agar rajin belajar adalah kisah Sun Kang yang rindu terus membaca hingga terluka.

Sun Kang hidup pada zaman Dinasti Jin (317-420 Masehi). Sejak usia kanak-kanak sudah tampak kepintarannya. Ia suka sekali terhadap buku, tetapi ia dibesarkan dari keluarga yang sangat miskin sampai minyak untuk lampu pun tidak sanggup dibeli. Karena miskin dan dorongan kebutuhan yang mendesak, maka orangtuanya mewajibkan semua anaknya untuk bekerja, termasuk Sun Kang yang masih kecil. Setiap hari ia bekerja sampai menjelang malam sehingga pulang ke rumah dalam keadaan lelah dan juga tidak ada lagi waktu untuk membaca buku karena di rumah tidak ada penerangan. Di desa itu hanya rumah Sun Kang yang tidak ada penerangannya.

Sun Kang sering berangan-angan kalau saja rumahnya memiliki lampu, maka ia bisa membaca banyak buku. Karena sangat ingin membaca buku, ia bertanya kepada ayah dan ibunya,"Semua tetangga kita mempunyai lampu, hanya rumah kita yang tidak punya lampu. Jika begini terus, siang hari bekerja dan malam hari tidak bisa membaca buku, kapan saya bisa menjadi anak yang pintar. Bisa tidak kita punya satu lampu?"

Mendengar pertanyaan anaknya, kedua oprangtuanya sangat sedih. Dengan berat hati mereka berkata, "Sun Kang, kita sangat miskin dan minyak untuk lampu sangat mahal, kitas tidak sanggup membelinya. Jika kita membeli minyak untuk lampu, kita sekeluarga pelan-pelan bisa mati kelaparan." Setelah berkata begitu kedua orangtuanya meneteskan airmata. Ia pun ikut menangis. Sun Kang sungguh mengerti dan prihatin akan kondisi keluarganya sehingga ia berjanji dalam hati untuk tidak lagi menuntut orangtuanya membeli lampu minyak.

Kerinduan untuk membaca buku tetaplah besar. Sun Kang sering meminjam buku orang lain dan ia selalu mengembalikan buku itu tepat waktu. Kendatipun seharian telah lelah bekerja, malam hari ia selalu pergi ke luar rumah untuk mencari sinar rembulan pada malam hari untuk membaca buku. Namun, karena sinar yang serba terbatas membuat kedua matanya sering letih dan tak sanggup membaca dengan waktu yang panjang.

Pada suatu musim dingin, turun salju yang sangat lebat. Pada waktu malam hari hujan salju berhenti, udara sangat segar, dan malam itu terang rembulan sangat baik. Sun Kang berpikir ini waktu yang baik untuk membaca buku. Karena itu, ia pergi ke luar dengan membawa satu buku dibaca di bawah sinar rembulan dan juga terang dari lampu tetangga. Setelah membaca, ia pun merasa lelah dan ingin pulang. Dalam perjalanan pulang ia tersandung dan bukunya jatuh di atas salju. Karena ingin menyelamatkan bukunya, ia segera bangkit untuk mengambil buku itu walau kakinya terluka. Pada waktu ia hendak memungut bukunya, ia bisa melihat dengan jelas tulisan yang ada dalam buku. Kok bisa? Ternyata salju yang padat bisa memantulkan sinar sehingga bisa membuat cahaya lebih terang dari sinar rembulan.

Menemukan peristiwa ini, Sun Kang pun bergembira karea ternyata di balik musim salju yang dingin dia dapat membaca buku dengan lebih baik. Mulai hari itu tiap malam ia pergi ke luar untuk membaca buku dengan memanfaatkan sinar rembulan dan pantulan cahaya dari salju. Ia terus berusaha melawan dingin agar bisa membaca buku. Padahal, jika orang kedinginan mudah menderita borok di kulit. Penyakit ini disebut dong chuang. Jika orang sudah menderita borok tersebut, borok itu tidak bisa sembuh sampai musim dingin usai. Borok itu membuat daging dan kulit terbuka sehingga perih sekali. Namun, walau harus menderita borok yang sangatperih, Sun Kang tetap pergi pada malam yang dingin hanya untuk bisa membaca buku. Lama kelamaan tangan dan kakinya penuh dengan dong chuang yang sangat perih, tetapi itu sama sekali tidak membuatnya berhenti membaca buku. Menurut Sun Kang, hanya dengan sinar rembulan dan pantulan sinar dari salju ia bisa membaca banyak buku.Oleh karena itu, tidak perduli berapa sakit yang harus ia tahan dari borok musim dingin itu, ia tetap akan membaca buku.

Akhirnya Sun Kang tumbuh menjadi ahli pikir yang brilian dan menjadi penasihat yang baik untuk membangun kerajaan. Kisah ini berkembang dari mulut ke mulut dan dari generasi ke generasi. Kisah Sun Kang sungguh mengharukan dan sering menjadi cerita yang mampu memotivasi anak-anak di China untuk rindu membaca dan belajar. Teruslah membaca dan belajar walau untuk itu harus terluka.



Baca selengkapnya.....

Cerita Kuang Heng: Sang Otodidak

Tuesday, May 26, 2009


Pada zaman kerajaan Xi Han, ada seorang guru besar yang sangat pintar, namanya Kuang Heng. Ia dibesarkan dalam keluarga yang sangat sederhana.
Orangtuanya tidak sanggup membelikan buku untuk ia belajar;lebih lagi, tidak juga sanggup menyekolahkan anaknya. Tetapi sejak kecil Kuang Heng suka sekali membaca buku. Pendapatnya, "Walaupun aku tidak mampu pergi ke sekolah dan tidak bisa mendengarkan guru mengajar, aku bisa belajar secara mandiri. Aku harus belajar lebih tekun supaya sama pintar dengan anak-anak yang memiliki kesempatan pergi ke sekolah. Kalau bisa aku harus lebih pintar dari mereka. Aku pasti bisa !"

Semangatnya yang besar untuk belajar dan mentalnya yang tidak menunggu apa yang belum dimiliki, tetapi memaksimalkan apa yang ada, itulah yang menolongnya berhasil mencapai cita-citanya.

Tekadnya untuk belajar secara mandiri atau otodidak sangatlah besar.Keadaan ekonomi yang sangat sederhana membuatnya harus membantu orangtua bekerja guna menyambung hidup. Tiap hari ia bekerja keras membanting tulang membantu orangtuanya. Tidak punya uang membeli buku masih bisa diatasi dengan meminjam, tetapi celaka kalau tidak punya waktu untuk membaca buku. Ia tidak sampai hati untuk berkata kepada orangtuanya bahwa ia ingin belajar sehingga tidak perlu bekerja membantu orangtua.

Ia terus berpikir untuk menemukan cara terbaik agar bisa membantu orangtua bekerja, tetapi tetap punya waktu untuk membaca buku.Karena itu, pada waktu pagi hari sebelum pergi bekerja, ia membaca buku yang dipinjamnya dari orang lain atau perpustakaan. Pada siang hari, ia membaca buku dengan menggunakan waktu istirahat siang. Dan, pada malam hari ia menggunakan sisa-sisa kekuatan sepanjang hari itu untuk membaca buku.

Yang bisa diteladani darinya adalah cara dan semangatnya untuk bisa membaca buku pada malam hari. Karena ekonomi keluarga yang sangat sederhana, orangtuanya tidak mampu membeli minyak. Namun, ia memiliki akal bagaimana supaya rumahnya ada sedikit cahaya lampu. Waktu itu rumah Kuang Heng berdinding kayu dan ia tahu dibalik dinding belakang rumahnya adalah ruang kerja tetangganya dimana lampunya menyala sampai jauh malam. Karena itu, ia berpikir bagaimana bisa membaca buku dengan memanfaatkan terang dari rumah tetangga. Ia sering berkata kepada dirinya sendiri, "Seandainya bulan selalu purnama dan terang-benderang aku pasti pasti bisa membaca buku walau dirumah tidak ada lampu, tetapi sayangnya terang bulan tiu cuma beberapa hari. Karena itu jika aku bisa memanfaatkan terang lampu tetangga, suatu saat aku bisa jadi orang pintar karena bisa membaca banyak buku."

Karena ia terus berpikir demikian, suatu hari dia menemukan cara, yakni meminjam terang tetangga untuk membaca buku. Ia mendapat akal yang di kemudian hari tetangga itu pun tidak marah kepadanya. Ia melubangi dinding pembatas rumahnya dan rumah tetangga sebesar selongsongan bambu. Lalu ia menaruh selongsongan bambu di lubang tersebut. Dengan demikian terang lampu tetangga bisa masuk seperti sebuah senter. Dengan terang inilah ia mulai mengejar impiannya; menjadi orang pintar dengan membaca banyak buku walau tidak sempat bersekolah.

Setiap malam sepulang membantu ayah dan ibunya bekerja, ia bersemangat untuk membaca buku melalui "senter" buatannya itu. Selama lampu tetangga tidak padam,ia tidak ingin menghentikan kesukaannyamembaca buku. Jika lampu sudah padam, baru ia tidur. Lama kelamaan ia sudah membaca banyak sekali buku. Pengetahuannya pun luas sekali. Orang yang berpendidikan tinggi saat itu pun sering ditemuinya untuk berdiskusi. Para orang pintar itu pun mendapati bahwa kualitas seorang Kuang Heng ternyata sangat tinggi, bahkan banyak diatara mereka mengakui bahwa pengetahuan Kuang Heng jauh lebih luas daripada mereka.

Orang-orang pintar saat itu mengagumi sikap Kuang Heng yang tidak menunggu sampai fasilitas lampu ada dirumahnya, tetapi dengan cara yang bijak ia bisa mendapat sedikit terang. Dan, sedikit terang itu ia manfaatkan semaksimal mungkin untuk membaca banyak buku. Di kemudian hari Kuang Heng menjadi seorang ahli pikir dan ahli pendidikan termasyhur pada zamannya. Sehingga, akhirnya ia bekerja sebagai seorang guru besar yang membantu rakyat dalam meningkatkan pengetahuannya.Zao bi tuo guang yang arti sederhananya adalah meminjam terang tetangga, akhirnya menjadi kata idiom yang terkenal di China untuk menggambarkan orang sederhana yang bisa menggapai sukses dengan fasilitas seadanya. Idiom ini juga untuk menggambarkan seseorang yang punya semangat besar sekali untuk meningkatkan pengetahuan.

Baca selengkapnya.....

Cerita Lao Zi: Perbedaan Lidah dan Gigi

Tuesday, April 28, 2009

Salah satu orang yang paling berilmu di negeri China adalah Lao Zi.Dan,Lao zi belajar banyak dari gurunya yang berilmu sangat tinggi. Nama gurunya itu adalah Shang Rong. Shang Rong memiliki pemikiran sangat tinggi dan mendalam. Ia juga memiliki cara mengajar yang dikagumi oleh Lao Zi, karena itu ia merasa bahwa gurunya yang menjadikannya manusia berpengetahuan luas.

Pada suatu hari, dalam usia yang sudah sangat lanjut, Shang Rong sakit parah. Saat mendengar bahwa guru yang sangat disayangi dan dikaguminya sakit, Lao Zi neninggalkan pekerjaannya dan pergi membesuk. Saat itu Lao Zi sangat khawatir bahwa gurunya tidak akan bisa bangun lagi. Karena itu, ia bertanya kepada Shang Rong, "Apakah ada yang bisa saya bantu dan apakah ada pesan-pesan yang sangat penting ?"
Dengan suara yang masih bisa didengar dengan jelas, Shang Rong berkata, "Jika kamu pergi dan melewati sebuah desa tua, kamu harus turun disana."

Lao Zi agak heran dan bertanya," Apakah itu berarti saya tidak boleh menjadi orang yang lupa akan desa tua atau kampung halaman ?"

Shang Rong menggelengkan kepalanya lalu berkata," Jika kamu melewati pohon tua yang tinggi besar, harus berlari dengan pelan-pelan"

Lao Zi menjawab, " Apakah maksudmu yang penting adalah orang muda harus menghormati orang yang tua ?"
Sambil tersenyum Shang Rong menggelengkan kepalanya lagi. Setelah mereka berdua terdiam sejenak, Shang Rong memikirkan sesuatu untuk dikatakan, sementara Lao Zi memikirkan apa maksud gurunya.

Tidak berapa lama kemudian Shang Rong membuka mulutnya lalu bertanya, "Apakah lidah saya masih ada ?"

Lao Zi menganggukkan kepala dan menjawab," Masih ada !"

Lalu Shang Rong melanjutkan pertanyaannya, " Apakah gigi saya masih ada ?"

Setelah melihat, Lao Zi menjawab, " Sudah tidak ada satupun gigi yang tertinggal !"

Shang Rong kembali bertanya ," Apakah kamu tahu arti yang hendak saya sampaikan ?"

Setelah berfikir sejenak, Lao Zi menjawab, "Apakah guru ingin menyampaikan bahwa gigi itu keras dan karena itu rontok duluan. Dan, lidah itu lembut dan fleksibel, karena itu lebih tahan lama daripada gigi ?"

Dengan senyum bangga, Shang Rong memuji muridnya, " Kamu sekarang sudah mengerti semua rumus penting hidup."

Baca selengkapnya.....

About This Blog

Blog Archive

  © Blogger template The Professional Template II by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP