Showing posts with label pohon. Show all posts
Showing posts with label pohon. Show all posts

Terus Berkonsentrasi, Hidup Akan Jauh Lebih Baik: Sebuah Cerita Inspirasi

Sunday, September 20, 2009




Pada zaman dahulu kala di negeri China ada seorang ahli bermain catur, namanya Qiu. Karena kemahirannya bermain catur yang sulit dicari tandingannya, maka ia di panggil Yi Qiu.

Pada waktu usia mulai tua, Yi Qiu mempunyai dua orang murid yang diharapkan dapat bermain catur semahir dirinya. Karena itu, ia serius dalam mengajar kedua murid tersebut. Tiap hari berlatih catur. Ia ingin semua kemampuannya, kiat-kiatnya dalam memenangkan pertandingan, dan semua strategi pertahanan dan strategi menyerang dalam bermain catur semua diberikannya kepada kedua murid tersebut. Ia mengharapkan dalam waktu yang tidak terlalu lama kedua muridnya sudah bisa membuatnya bangga. Dari dua murid tersebut, seorang sungguh-sungguh serius dalam memperhatikan semua yang diajarkan oleh Yi Qiu. Ia sangat serius dan tekun dalam berlatih untuk meningkatkan keterampilannya bermain catur. Hal-hal lain dinomorduakan olehnya.

Adapun seorang murid lainnya, tampaknya saja ia sedang duduk belajar dan berlatih, namun sebenarnya pikirannya terbang ke mana-mana. Ia sulit mencurahkan konsentrasinya untuk bermain catur. Ketika berlatih atau belajar catur, sebentar-sebentar ia melihat keluar jendela memandang langit dan juga pohon-pohon di luar sana.

Jika ada sekumpulan burung terbang melintas, ia selalu membayangkan seandainya bisa menangkap seekor setiap hari maka ia bisa makan daging burung goreng atau panggang yang lezat. Sampai Yi Qiu selesai mengajar, ia sama sekali sulit mengingat semua ajaran itu karena seringnya ia melamun.

Satu hari Yi Qiu memanggil kedua muridnya untuk duduk berhadap-hadapan di meja catur. Ia ingin mengetahui sampai di mana pelajaran yang sudah dia ajarkan diserap oleh kedua murid tersebut. Hari itu murid yang serius belajar dan berlatih mengenakan baju berwarna hijau, sedangkan murid yang sering melamun mengenakan baju berwarna biru. Oleh sebab itu, Yi Qiu pada hari itu memanggil mereka dengan sebutan Si Hijau dan Si Biru.

Walau Si Biru sebelum menjadi murid Yi Qiu permainan caturnya setingkat di atas Si Hijau, namun saat itu Si Hijau mampu mengalahkannya dengan mudah. Hasil permainan catur itu membuktikan bahwa Si Hijau keterampilannya meningkat pesat dan Si Biru keterampilan bermain caturnya tidak begitu meningkat. Saat itu Yi Qiu tahu pasti bahwa Si Hijau benar-benar serius belajar dan berlatih untuk meningkatkan keterampilannya, sedangkan Si Biru banyak melamun dan kurang berkonsentrasi dalam belajar dan berlatih. Ia tahu bahwa sebenarnya Si Biru mempunyai otak yang lebih cerdas dari Si Hijau.

Yi Qiu berkata kepada mereka, "Walaupun bermain catur adalah hal yang kecil, namun jika kita tidak serius dalam belajar dan berlatih, tidak teliti dalam mengamati permainan lawan, tidak sabar dalam bertahan dan menunggu saat yang tepat melakukan serangan, kita tidak akan pernah berhasil. Kuncinya adalah konsentrasi penuh dan kita akan mendapat hasil yang lebih baik.

Hidup juga demikian, kita tidak boleh mengabaikan hal-hal yang tampak kecil, semua hal jika dilakukan dengan konsentrasi dan tekun dalam menghadapinya maka hasil yang didapat akan jauh lebih baik. Jika kurang konsentrasi dalam melakukan hal-hal yang kecil, tidak jarang kita bisa kehilangan sesuatu yang berharga."

Baca selengkapnya.....

Dong Guo dan Serigala: Cerita Inspirasi Negeri China

Thursday, September 17, 2009




Dong Guo sedang melakukan perjalanan menuju negeri Zhong Shan untk mengurus sesuatu. Ia berjalan kaki sementara di punggung keledainya ada beberapa buku dan barang-barang bawaan lainnya. Berjalan dan terus berjalan sampai akhirnya Dong Guo sadar ia sudah salah jalan dan tersesat.

Sementara ia bingung arah yang seharusnya ditempuh, seekor serigala mendatanginya. Serigala itu berseru, "Tolong selamatkan aku, tolong salamatkan aku!"

Dong Guo balik bertanya, "Ada masalah apa denganmu, apa yang membuat kamu minta tolong kepada saya?"

Serigala itu menjawab, "Ada sekumpulan pemburu sedang mengejarku. Mereka bisa melukai dan membunuhku. Aku pernah mendengar bahwa Anda adalah orang yang sangat baik. Karena itu, aku mohon, tolong selamatkan aku. Aku pasti membalas budi baikmu!"

Setelah berpikir sejenak Dong Guo bertanya lagi, "Bagaimana saya bisa percaya bahwa kamu akan membalas budi, lagi pula jika para poemburu itu tahu saya menyembunyikan kamu, jangan-jangan saya pun akan celaka! Namun, saya selalu ingin berbuat baik. Sekarang saya akan menolongmu, hal yang lain itu urusan nanti."

Dengan segera Dong Guo mengeluarkan buku-buku dan barang bawaannya dan menyuruh serigala itu masuk dalam kantong barang tersebut untuk diletakkan di punggung keledai. Namun, sudah beberapa kali dicoba, serigala itu tidak juga bisa masuk dalam kantong itu. Semakin tidak bisa masuk, semakin membuat serigala itu khawatir dan takut. Lalu dengan hikmat terakhir Dong Guo menekuk ke empat kkaki serigala itu dan akhirnya bisa masuk juga.

Baru saja kantong itu diletakkan di atas punggung keledai, para pemburu datang dan bertanya kepadanya, "Apakah Tuan melihat seekor serigala lewat?"

Dong Guo menjawab, "Saya sedang salah jalan dan tersesat. Sekarang saya sedang bingung harus jalan ke arah mana. Karena itu, saya tidak terlalu memperhatikan apakah ada serigala lewat atau tidak."

Para pemburu itu pun percaya dan segera berlalu dari hadapannya.

Melihat para pemburu sudah berlalu dan merasa situasi sudah aman, Dong Guo melepaskan serigala itu. Begitu keluar serigala itu pun berkata, "Sungguh aku berterimakasih kepadamu karena telah menyelamatkan nyawaku. Namun, jika Tuan ingin menolong seharusnya menolong sampai tuntas!"

Dong Guo bingung mendengar ucapan itu. Ia bertanya, "Apa maksudmu menolong sampai tuntas?"

Serigala pun menjelaskan, "Aku sekarang sudah sangat lapar. Beri aku makanan atau biarkan aku memakanmu, karena dengan demikian Tuan sudah menolong saya sampai tuntas!"

Dong Guo terkejut dan mulai takut mendengar ucapan serigala itu. Sambil menjauh ia berkata, "Kok, bisa begitu? Di kolong langit ini tidak ada yang seperti kamu. Saya sudah menyelamatkanmu dari kematian tapi sekarang kamu mau makan saya? Jika kamu tetap mau makan saya, coba pergi dan cari tiga makhluk tua dan bertanya kepada mereka. Jika mereka setuju bahwa kamu boleh memakan saya, segera makanlah saya."

Serigala itu pun menyanggupi syarat yang diajukan Dong Guo. Ia membawa Dong Guo pergi ke satu pohon besar dan bertemu dengan tikus. Serigala itu menceritakan kepada tikus bahwa dia sudah ditolong oleh Dong Guo dan sekarang, karena lapar, ingin memakan Dong Guo.

Tikus itu menjawab, "Aku sudah dua puluh tahun membantu Tuanku untuk mengambil buah-buahan. Sekarang ketika aku sudah tua seperti ini, dia malah menjualku. Hidup memang begitu, sering kali kita harus menjumpai ketidakadilan. Karena itu aku setuju kalau serigala ingin memakan Tuan!"

Lalu mereka pun meneruskan perjalanan dan bertemu seekor sapi. Kejadian yang sebenarnya pun diceritakan kepada sapi. Setelah mendengarkan dengan seksama, sapi itu memberikan pendapatnya, "Seumur hidup susuku diperas oleh tuanku, sekarang ketika aku sudah tua dan tidak bisa memproduksi susu segar lagi, mereka merencanakan untuk menyembelih dan memakan dagingku. Karena itu, aku setuju bila serigala memakan tubuh Tuan!"

Sementara meneruskan perjalanan, Dong Guo semakin ketakutan dan juga mulai menerima kenyataan bahwa serigala yang ditolongnya malah mau memakan dirinya. Akhirnya mereka bertemu seorang yang tua. Orang itu mendengarkan dengan seksama semua cerita Dong Guo dan serigala.

Setelah menimbang-nimbang orang tua itu sambil mengernyitkan dahi bertanya, "Saya tidak habis pikir bagaimana mungkin serigala bisa masuk ke kantong sekecil ini? Jika saya dengan mata kepala sendiri bisa menyaksikan serigala ini masuk ke dalam kantong dan Tuan bisa mengangkat dia ke atas punggung keledai, maka saya setuju tubuh Tuan dimakan olehnya."

Mendengar itu, serigala merasa di atas angin karena sebentar lagi bisa memakan tubuh Dong Guo. Serigala itu berkata dalam hati, tadi aku bisa masuk sekarang juga pasti bisa!

"Ayo Tuan Dong Guo, silakan buka kantong Anda dan biarkanlah Pak Tua ini menyaksikan bahwa saya bisa masuk ke dalam kantong itu dan Tuan bisa angkat ke atas punggung keledai!" kata serigala bersemangat.

Dong Guo melipat keempat kaki serigala lalu memasukkan ke dalam kantongnya, setelah itu ia mengikatnya. Ketika hendak mengangkatnya ke atas punggung keledai, Pak Tua itu berkata, "Biar saya yang melakukannya!" Lalu Pak Tua itu dengan segera mengeluarkan tongkat kayunya dan memukulkannya berkali-kali ke kantong tersebut. Serigala itu meraung-raung dengan kerasa, namun suara raungan itu makin lama makin pelan sampai tak terdengar lagi. Serigala itu pun mati, dan Dong Guo bisa melanjutkan hidupnya.

Baca selengkapnya.....

Menanam Pohon Bangsa

Wednesday, September 16, 2009




Mantan Presiden Amerika, John F. Kennedy, merujuk pada Lyautey, suatu kali dia mengingatkan, "Aku pernah meminta tukang kebunku menanam sebuah pohon. Tukan kebun menjelaskan bahwa pohon itu lambat tumbuh dan tidak akan matang sampai seratus tahun." Aku lalu menjawab, "Oleh karena itu tidak ada waktu untuk dibuang, tanam nanti sore............".

Pertumbuhan dan perkembangan sebuah negara bagaikan sebuah hubungan yang panjang, dan pasti ada pengorbanan yang luar biasa pada tingkat individu dan nasional sebelum akhirnya menjadi berbunga dan mendapat posisi terhormat dan mulia dalam hubungan pergaulan dunia. Tetapi bagi kita yang tak kuasa menunggu kematangan kebijakan nasional dalam seratus tahun, jawabannya hanyalah: "Oleh karena itu, kita tidak dapat membuat mesti satu menit waktu. Kita harus menanam 'pohon kita menit ini juga'.

Jika untuk mengambil pohon yang besar dan tinggi harus menunggu seratus tahun, siapa pun yang ingin mempunyai pohon tersebut tak punya pilihan selain menanamnya pada waktu itu. Jika untuk memiliki pohon itu, orang hanya berhamburan turun ke jalan-jalan dan mengacungkan kampanye atas nama pohon, atau berkumpul di beberapa tempat terbuka, atau berjalan lewat jalan-jalan sambil meneriakkan slogan tentang itu, mereka tidak akan memiliki satu pohon pun, apalagi sebuah kebun buah sendiri.

Demikian pula, Anda tidak bisa memiliki sebuah rumah dengan pidato yang indah tentang kebutuhan akan rumah. Akan sangat bodoh melakukan hal tersebut. Begitu juga sebuah negara tidak dapat memperkokoh dirinya sendiri dengan kerja hanya dalam bidang politik. Dalam dunia puisi yang ajaib, revolusi dapat diperoleh sebagai hasil sebuah permainan kata-kata. Seorang pemimpin rakyat dapat membuat pidato yang membangkitkan dan menarik kumpulan orang yang banyak. Tetapi hasil nyata hanya bisa di capai dengan perencanaan yang panjang, berkelanjutan dan usaha yang penuh dedikasi.

Perlu dikatakan, bahwa dua kebaikan besar yang tak bisa dihindari dalam perjuangan adalah sabar dan teguh. Ya, dan bahwa cita-cita/keinginan tidak akan terwujud cuma dengan kata-kata, melainkan usaha keras dengan perbuatan nyata.

Baca selengkapnya.....

Upaya Setengah Hati: Jangan Lagi-Lagi

Wednesday, September 02, 2009




Ketika saya masih anak-anak, saya dan teman-teman sering melewatkan hari-hari musim kemarau yang terik dengan terjun dari sebatang pohon hujan di anak sungai yang tidak begitu jauh. Dua orang teman saya mempelajari cara terjun yang bagus yang akan di tiru oleh siapa pun dengan bangga. Mereka bisa jungkir balik ke depan dan mengenai permukaan air dengan tepat. Untuk melakukan gaya terjun ini, orang harus mengerahkan segala-galanya atau tidak sama sekali. Tidak ada komitmen setengah hati, sebab keraguan sedikitpun biasanya mengakibatkan hempasan ke air dengan perut yang menyakitkan.

Prinsip ini juga berlaku dalam hampir semua bidang kehidupan. Mustahil untuk sukses kalau komitmen kita hanya setengah hati, sebab kalau keadaan menjadi sulit dan kita tidak mau melakukan upaya ekstra, sukses tidak akan tercapai. Kalau Anda hanya sekedar ikut-ikutan, atau hanya melakukan sedikit saja, atau hanya melakukan sesuatu dengan sembarangan, atau main-main saja, akibatnya adalah hempasan dengan perut yang menyakitkan.

Dalam permainan sukses dan kebahagiaan, yang diperlukan komitmen sepenuhnya atau tidak sama sekali. Komitmen total adalah kunci menuju sukses, jadi berilah yang terbaik dari diri Anda. Perbedaan antara sukses dan kegagalan kerap kali adalah perbedaan antara upaya setengah hati dan komitmen total !!!

ANDA TIDAK BISA MELEPASKAN TANGGUNG JAWAB HARI ESOK DENGAN MENGHINDARINYA HARI INI. (ABRAHAM LINCOLN)


Baca selengkapnya.....

About This Blog

Blog Archive

  © Blogger template The Professional Template II by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP