Showing posts with label Puisi dan Syair. Show all posts
Showing posts with label Puisi dan Syair. Show all posts

Munajat Kerinduan Ketika Ziarah Di Pintu Masuk Tanah Suci: Syair Inspirasi Dari Qasida Pertama Al Hallaj

Friday, September 18, 2009

Ini aku datang, duhai Rahasiaku, Curahan
Hatiku!
Ini aku datang, duhai Tujuan dan Arah Hidupku!
Aku memanggilMu....., ah tidak! tapi Engkau
memanggil para diriMu sendiri!
Lalu bagaimana aku akan berseru, "Hanya Engkaulah!"
sedang Engkau berbisik padaku, "Inilah Aku"
Duhai Engkau, inti dari keberadaanku,
duhai Engkau, serpihan-serpihan hasratku,
Duhai Engkau, sumber kekuatanku,
Engkaulah keutamaanku,
yang senantiasa trsembunyi dalam gumamanku!
Duhai totalitas dari seluruh totalitasku,
Engkaulah pendengaran dan penglihatanku,
Duhai totalitasku, persatuan dan serpihanku,
Duhai totalitas, dari seluruh totalitasku,
tapi totalitas dari totalitas, adalah sebuah misteri,
Dan inilah totalitas dari totalitasMu, aku kabur
dengan apa yang hendak kuungkapkan!
Duhai Engkau, tempatku bergantung,
diriku tenggelam dalam ekstase,
Dan Engkau datang menjadi penebus
atas duka nestapaku!
Aku menangisi hukumanku yang tidak ditampung oleh tanah kelahiranku
melalui kepatuhan,
Dan musuh-musuhku mengantarkan rintihanku,
Duahi kekasih, mendekatlah padaku,
menepis kekhawatiranku, yang menggigil dalam hasrat
yang menghunjam di lubuk hati,
Duhai kekasih, apa yang harus kulakukan,
saat penyakitku menjemukan dokter-dokterku,
Mengajak mereka berkata, "sembuhkanlah dirimu melalui Dia"
Tapi aku berkata, bagaimana menyembuhkan
penyakit dengan penyakit?
Karena cintaku padaMu tlah mengikis dan membakar,
Bagaimana aku 'kan mengadu pada Raja Dirajaku?
Sepintas aku merasakannya,
dan jiwaku mengenalnya,
Tapi tak satupun yang mampu
mengungkapkannya hanya dalam sekejapan mata,
Ah, kemalangan jiwaku karena diriku sendiri....!
Sayang ! akulah justru yang menjadi penyebab kemalanganku!
Layaknya tubuh yang tenggelam,
dan hanya jari-jarinya yang terapung, meminta pertolongan di tengah samudera lepas,
Tak seorang pun tahu apa yang menimpaku,
kecuali Dia yang melebur dalam jiwaku,
Dia yang berkata, betapa malang nasib yang
menimpaku, dan atas kehendakNya aku mati atau hidup kembali!
Duhai Engkau muara doa dan harapanku,
duhai Tuan Rumahku,
Duhai Engkau semangat hidupku, duhai rahasia
keyakinanku, dan aku menjadi bagian di dalamnya,
Katakan padaku, "Aku telah menebusMu," duhai pendengaranku!
Duahi Engkau penglihatanku!
sampai habis masa pengasinganku....,o, betapa lama!
Meskipun Kau bersembunyi dari dua mataku,
jiwaku terjaga dalam nafasMu dari kejauhan.

Baca selengkapnya.....

Free Muhamad Iqbal Inspiration Poetry: Fase Pendidikan Pribadi

Monday, September 14, 2009




1. KETAATAN

Bijak dan kerja keras adalah sifat unta
Sabar dan tegar itu jalan hidup unta
Langkah lembut menapak di padang pasir
Dialah kapal bagi para pengarung samudera pasir
Semak belukar mengenal jejak langkahnya
Dialah makhluk yang jarang makan, tidurnya sedikit
Dan biasanya bekerja keras
Dibawanya beban di punggung
Berlari dan berlari hingga sampai ke tujuan
Langkahnya selalu gembira ria
Unta hewan yang sabar, lebih sabar dari si penunggangnya
Engkau juga kawan, jangan kau tolak tugas kewajiban
Agar dapat kau hidup di sisi Tuhan
Hai, orang ceroboh, taat dan patuhlah
Kemerdekaan adalah hasil dari paksaan
Karena ketaatan membuat orang rendah menjadi terhormat
Oleh karena keras kepala apinya jadi abu lagi
Siapa yang hendak menguasai matahari dan bintang
Jadikan dia tawanan hukum
Angin terpesona oleh wangi bunga
Wewangian sempurna di antara muskus
Bintang melesat ke tujuannya
Dengan kepala tertunduk kepada hukum
Rumput tumbuh karena taat pada hukum tetumbuhan
Jika tak dipedulikan hukum itu, maka rumput pun mati terinjak
Selalu terbakar adalah hukum bunga tulip
Dan darah semburat dari batangnya
Karena hukum kesatuan setitik air jadi laut
Dan segenggam pasir menjelma gurun sahara
Karena hukum segalanya jadi kuat
Tapi mengapa kau abaikan kekuatan itu?
Wahai kau yang lepas dari hukuman Islam
Hias kakimu dengan langkah agama

2.PENGUASAAN DIRI

Ruhmu semata membutuhkan dirimu sendiri bagai unta
Sebab unta yakin pada dirinya sendiri, mengatur dirinya
Dan kuat kehendaknya
Jadilah jantan, pegang talinya dalam tanganmu
Agar kau jadi mutiara meskipun kau tempayan
Bagi dia yang tak sanggup mengatur dirinya sendiri
Maka dia hanya jadi budak orang lain
Jika mereka bentuk dirimu dari lempung
Maka cinta dan ketakutan campur aduk dalam kejadianmu
Engkau akan jadi takut kepada dunia ini
Takut pada masa depan
Takut pada mati
Takut dan nestapa terhadap derita di bumi dan langit;
Cinta harta dan kekuasaan, cinta tanah air
Cinta pada diri serta sanak keluarga
Itulah campuran sempurna lempung dan air
Tapi bagi dia yang berlumur dosa matinya celaka
Peganglah selalu kalimat "Tiada Tuhan Selain Allah"
Maka akan kau pecah setiap lembah ketakutan
Pada sesiapa tuhan bagai jiwa bagi raganya
Kepalanya tak tunduk pada segala kesombongan
Tak ada takut dan cemas dalam dadanya
Hatinya tak pernah gentar selain kepada Allah semata
Siapa saja yang bersemayam dalam iman muslim
Bebas dari ikatan istri dan anak
Tiada yang lebih ditakjubkannya selain Allah
Dan Ibrahim pun melekatkan belati ke leher Ismail putranya
Sendiri, tapi dia bagai prajurit di medan laga
Di matanya kehidupan ini lebih murah dari sehelai baju
Iman adalah kepahnya, sembahyang itu mutiaranya
Hati muslim menganggap setiap shalat adalah umroh
Di tangan muslim shalat seumpama pisau tajam
Untuk membunuh dosa, kebekuan hati serta segala noda
Sedang puasa untuk menyerang lapar dan dahaga
Dan menghancurkan benteng nafsu angkara
Pergi haji memberi cahaya bagi pikiran beriman
Diajarkan kita meninggalkan rumah
Melupakan sebentar tanah air sendiri
Itulah namanya amal kebaktian
Di mana semua bangsa bersatu padu
Diikat lembar kitab agama
Zakat mengajar yang kaya jadi dermawan
Melunaskan rasa kebersamaan
Dikuatkannya hati pada laku kebajikan
Dilipatgandakan kekayaan
Mengurangi sikap cinta harta benda
Semua ini adalah jalan memperkuat dirimu
Kau jadi kokoh
Andai Islammu kuat
Capailah sifat qawi-Nya
Agar dapat kau tunggang unta jisinmu sendiri!

3.PERWAKILAN PRIBADI

Jika engkau dapat kuasai untamu, niscaya dunia kau kuasai
Dikepalamu akan berkilau singgasana Sulaiman
Dirimu akan jadi cemerlang dunia, selama dunia ini masih berkembang
Alangkah nikmatnya jadi kalifah Ilahi di bumi ini
Segala unsur tunduk tekun padamu!
Niyabat-i-Ilahi adalah bagai jiwa alam semesta
Ujudnya jadi bayangan Nama Yang Terluhur
Diketahuinya segala rahasia hingga yang sekecil-kecilnya
Dikerjakannya perintah Tuhannya
Jika didirikannya kemah di alam luas ini
Maka di gulungnya permadani zaman yang lama
Kecakapannya penuh sinar kehidupan
Dan ingin mewujudkan dirinya
Dia akan menciptakan dunia lain yang baru
Dunia-dunia kecil dengan kelengkapannya di atas bumi ini
Bermekaran bagai mawar dari benih khayalnya
Dijadikannya setiap alam yang kasar berubah kemurnian
Dipindahkannya patung-patung dari rumah suci
Sentuhannya menggetarkan dawai kalbu jadi musik merdu
Bangun dan tidurnya demi Allah semata
Diajarkannya kepada yang dewasa lagu muda belia
Dan ditaburkannya cahaya bahagia
Kepada umat manusia
Serta digemakannya amanat gembira dan peringatan
Dia datang seperti seorang prajurit
Seperti seorang jenderal ataupun pangeran gagah perkasa
Dialah sebab terakhir dari Allah
Yang mengajarkannya tiap nama benda
Dialah tabir rahasia dari Maha Besar Tuhan
Musa yang diperkukuh dengan tongkatnya
Ilmunya berpasangan dengan kodrat manusia unggul
Langkahnya gagah perkasa mengeringkan Laut Merah
Dipimpinnya Bani Israil dari Mesir kuno
"Bangkitlah!" pekiknya
Lalu mereka yang mati rohani bangkit bagai pohon tusam
Kepribadiannya jadi pembebasan dunia
Karena sifat luhurnya dunia pun terhindar dari bencana
Bayangannya jadi payung dari terik matahari
Ujudnya yang padu memberi nilai bagi segala yang ada
Jejak langkahnya jadi pandangan yang luas
Betapa Musa terpesona oleh gunung Sinainya
Diberinya tafsir baru bagi kehidupan tentang mimpi itu
Ujudnya terpendam seperti musik yang tak terdengar
Dari dawai kecapi hidup ini adalah rahasia kehidupan
Alam bekerja keras dalam darah generasi
Yang menciptakan kepatuhan indah pribadinya
Apabila setumpuk abu kita mencapai puncak kejayaan
Maka Sang Unggul akan menjelma dari abu itu!
Baringlah kau di atas debu kekinian
Nyala api yang menerangi masa depan
Putik kita akan menumbuhkan tamansari bunga mawar
Mata terang berkilau oleh fajar esok
Datang engkau, wahai penunggang kuda takdir!
Datang kau, wajah cahaya dalam gelap gulita perubahan!
Terangi kegembiraan penciptaan
Menyalalah dalam kegelapan mata kami!
Redam hiruk pikuk bangsa-bangsa
Penuhi telinga kami dengan nyanyianmu
Bangkitlah dan kumandangkan kecapi persaudaraan dunia
Serahkan kembali piala anggur cinta
Gambar lagi zaman perdamaian bagi mereka yang gemar berjuang
Umat manusia adalah ladang dan kaulah pemanennya
Kaulah arah tuju kafilah kehidupan

Daun-daunnya berterbangan diamuk musim gugur
Ah, lintasi taman kami bagai musim semi
Terimalah alis mata kami yang menunduk ini
Jika engkau hadir kami kembali mengangkat kepala
Suka citalah menggeluti nyala yang membakar dunia ini.

Baca selengkapnya.....

Alam Semesta Dan Kekuatan Pribadi: Muhammad Iqbal Free Inspiration Poetry

Sunday, September 13, 2009




Segala bentuk peristiwa adalah akibat dari sang Pribadi
Apapun yang engkau saksikan itu semata sebab rahasia Pribadi
Apabila kePribadian bangkit mengatasi kesadaran
Diwujudkannya dunia ide dan pikiran sejati
Ratusan alam melingkup dalam intisarinya
Mewujudkan dirimu melahirkan yang bukan pribadimu
Kepribadian menyemaikan bibit kehendak di atas dunia
Pertama dia anggap dirinya itu bukan dirinya
Dari dirinya dilahirkannya berjenis bentuk lain
Agar menambah warna-warni kenikmatan perjuangan
Dia lemaskan tangannya
Agar dia menyadari tenaganya
Tipu daya terhadap diri sendiri adalah saripati kehidupan
Bagaikan bunga mawar sang pribadi hidup bermandikan darahnya sendiri
Demi sekuntum mawar dimusnahkannya ratusan taman mawar
Dan dikatakannya bahwa ratusan keluh-kesah hendak mencari sebuah lagu
Untuk satu langit diciptakannya ratusan putri bulan
Dan bagi satu lafadz ratusan makna kata
Maaf bagi kelimpahan himmah dan kebengisan ini
Keduanyalah yang membentuk dan menyempurnakan keindahan rohani
Kecantikan Shirin menyatakan kegelisahan Farhad
Semerbak wangi kembang jeruk mengundang harum muskus
Nasib sang agas mencampakkan dirinya ke dalam nyala pelita
Derita sang agas dinyatakan oleh cinta
Pensil Sang Pribadi melukis ratusan kekinian
Agar menjelma ajar masa depan
Nyalanya membakar ratusan Ibrahim
Agar berkilauan lampu seorang Muhammad
Subyek,obyek, cara, sebab-musabab
Seluruhnya ada bagi tujuan amal
Sang pribadi bangkit, menyala, jatuh, cemerlang, dan bernafas
Membakar, menyinar, berjalan dan lari terpental
Meluaskan ruang waktunya
Dan keabadian semakin melunasi ujudnya
Dia tidur beralaskan tikar ilalang
Malamku lebih panas dari sebuah pagi di padang Mahsyar
Dialah awan berarak bulan April dan akulah tamannya
Pohon anggurku diselimuti hujan
Kusemaikan mataku di padang cinta
Dan aku nikmati buahnya yang dahsyat
Hingga tanah Madinah paling indah tiada duanya
Ah, berbahagialah kota yang dimukimi oleh Yang Tercinta
Tenggelam aku menakjubi gaya bahasa Maulana Jami
Sajak dan prosanya menjadi obat bagi masa mudaku
Bertebaran dari tangannya sajak cinta indah memikat
Dan dirangkainya kalung mutiara seolah memuja Mustafa
Muhammad adalah pendahulu alam semesta
Seluruh dunia berbakti kepadanya sebagai tuan mereka
Pancaran kaifayat dari anggur cinta yang sejati
Dan sifat cinta adalah patuh sepatuh-patuhnya
Seperti orang suci dari Bistam yang amat taat
Yang selalu berpuasa dari makanan lezat
Wahai sang asyik, berbaktilah engkau kepada Muhammad
Agar engkau dapat menangkap Tuhan
Bersemayamlah sekejap di Hira kalbumu
Tinggalkan dirimu dan hijrah kepada Tuhan
Setelah engkau mendapat kuasa-Nya kembalilah lagi kepada dirimu
Hancurkan kepala berhala Lat dan Uzza
Himpunlah bala serdadu dengan kekuatan Cinta
Ujudkan pribadimu di Bukit Faran Cinta
Agar Tuhan dari Ka'bah melimpahkan anugerah-Nya bagimu
Dan terbukalah makna ayat: Inni ja'ilun--
Sesungguhnya akan kuciptakan kalifah-Ku di muka bumi.

Baca selengkapnya.....

Muhammad Iqbal Free Inspiration Poetry: DO'A

Thursday, September 03, 2009



Wahai Kau ruh alam semesta
Kau jiwa kami dan Kau senantiasa menjauh dari kami
Kau tiupkan irama dalam suling kehidupan
Hidup ini cemburu kepada mati
Jika mati kami yang duka
Bersemayamlah Engkau dalam lubuk hati ini
Sering kami mengeluh takdir
Perkuatlah cinta kami yang lemah
Kau begitu tinggi
Jangan sembunyikan wajahMu dari tangan kami yang hampa
Karuniakan kami dengan cinta Salman dan Bilal
Nyalakan mata kami dan lepaskan kantuk darinya
Berilah kami fitrah air perak!
Jadikanlah jasad kami ini setangguh gunung bercahaya api
Bakarlah dengan api kami segala yang bukan Tuhan

Apabila umat mencampakkan kunci tauhid
Mereka pecah berantakan
Bagai bintang di cakrawala kami berpencaran
Dengan cinta kasih satukan kami kembali
Bimbinglah kami menghikmati Kamu
Tugaskanlah mereka yang cinta kepada Mu
Kami hanya musafir. Berikan kami kebaktian menempuh tujuan
Seperti Engkau kepada Ibrahim, berilah kami iman yang teguh
Ajarkan kami lagi makna La ilaha
Bisikkan ke telinga kami illa'llah!

Aku yang menyala seperti damar bagi manusia lain
Ajari diriku untuk menangis lagi
Ya Allah! Air matamu yang menerangi kalbu
Aku dipenuhi gairah oleh duka nestapa yang menelan kedamaianku
Aku semaikan dalam taman
Agar kelak bibitku tumbuh menjadi api
Yang akan membakar tanda api dari jubah bunga nan elok
Kalbu bersama malam kemarin
Mataku bersama hari esok
Aku sendiri di antara kawan-kawanku
Walau setiap orang yang berkhayal adalah sahabatku
Tapi citaku tak terpengaruh oleh mereka
Ah, dunia yang luas. Dimanakah sahabatku?
Aku adalah api menyala di puncak Sinai
: DIMANAKAH MUSAKU?
Aku seorang zalim, ya Allah
Banyak kesalahan yang aku lakukan
Aku telah menyalakan bara dalam dada
Nyala yang menerangi alat pertimbangan

Wahai wajahMu yang memberi cahaya kepada bintang
Aku bagai bunga di tengah padang
Di tengah keramaian aku sendiri
Kumohon karuniaMu sebagai kawan
Agar dapat aku berkeluh kepada jiwanya
Dan melihat kembali wajahku dalam kalbunya.






Baca selengkapnya.....

Free Inspiration Poetry: RAHASIA PRIBADI oleh Muhammad Iqbal

Wednesday, July 29, 2009



Kala matahari memancar cerah ke alam semesta
Tercurah ke dalam malam bagai maling
Air mataku mengembun pada wajah mawar
Tangisku menyentak kantuk dari bunga nargis
Gairahku membangunkan rerumputan yang bertumbuhan kian tinggi
Tukang kebun mengajar aku mengalunkan lagu kekuasaan
Disemaikannya sebuah sajak serta dipanennya sebilah pedang
Di dalam tanah hanya bibit airmataku yang dia tanam
Dan dia tuntun keluh kesahku bersama taman bagai benang dan alat tenun

Meskipun aku hanya debu, namun sinar mentari adalah milikku:
Dari cakrawala dadaku ini terbit ratusan fajar
Debuku paling kemilau dari kilau piala Jamsid
Yang mengetahui segala peristiwa sebelum sampai ke dunia ini
Namun harapku terus memburu, dan di plana kudaku
Tergantung seekor kijang
Yang masih terkurung dalam kubah fenomena
Keelokan tamanku meski belum hijau kemilau daunnya
Telah dipenuhi kuntum mawar, mekar tersembunyi di antara lipatan baju
Maka aku jadikan para penyanyi diam membisu bila mereka duduk bersama
Aku getarkan senar kalbu mereka yang tengah menyimak diriku
Karena gitar ajaibku mengalirkan irama paling murni:
Namun bagi kawanku senandung iramaku itu teramat asing

Aku lahir ke dunia ini sebagai matahari baru
Aku tak tahu jalan dan gaya angkasa
Dan bintang-bintang tak ingin lari
Mereka berlesatan di hadapan diriku
Padahal air perakku belum berkilau
Dan sinarku yang menari-nari itu belum pula menjamah samudera
Pun warnaku yang merah tua belum pula menyaput gunung-gunung
Karena mata kejadian belum mengenal aku
Maka aku belum dapat berdiri setegaknya,
kebimbangan menggoyangku
Dari ufuk timur fajar bagiku tiba mengedari malam
Embun kemilau bersemayam di wajah mawar dunia
Aku menunggu kebangkitan yang asyik-masyuk atas sinar fajar
Ah, betapa gembira mereka yang hendak memuja apiku!
Tapi aku tak menghendaki telinga zaman sekarang
Akulah suara penyair dari dunia masa depan
Karena zamanku tak pernah memahami maksudku
Yusufku bukan sarana bagi pasar ini
Putus harapanku dengan kawan-kawan lama
Gunung Sinaiku menyala bagi Musa masa depan

Samudera mereka diam tenang seperti embun
Tapi embunku gelisah laksana badai topan
Laguku dari semesta yang lain bukan seperti senandung mereka
Gentaku ini memanggil musafir yang lain, ayo kawan, ikut tamasya
Berapa banyak penyair setelah ajalnya membuka mata
Sedangkan kita terkatub selamanya setelah mati
Dan terus ngembara dalam keniscayaan
Bila menguntum atas kuburnya
Meskipun para kafilah melintas di padang pasir ini
Langkah mereka demikian lembut bagai unta menapak
Tapi aku adalah seorang pencinta: imanku bergaung melambai
Tepuk gempita Hari Pertimbangan masuk kekasihku
Laguku melampau jarak dari bunyi dawai musikku
Namun aku tak takut gitarku pecah berantakan
Bagi titik air lebih baik tak mengenal arusku yang menggelombang
Apabila dia menggila menjelma laut mabuk kepayang
Tak ada lagi yang melingkup teluk Persia
Air bahku minta laut demi laut melingkupnya
Apabila putik bunga tak bermekaran jadi taman mawar
Tak patut dia tumbuh dari limpahan awan gemawanku yang mengandung hujan
Kilat demi kilat bersemayam dalam jiwaku
Kusapu gunung dan padang
Terimalah kilatku jika kau gunung Sinai
Telah dianugerahkan pada diriku kehidupan abadi

Akulah murid dari kegaiban hidup sejati
Bahkan sebutir abu pun akan hidup oleh nyala api laguku
Dia lepaskan sayapnya, maka dia menjelma kunang-kunang
Tak seorang pun pernah membisikkan rahasia yang kuceritakan ini
Atau mengumpulkan mutu di atas mutu gagasan seperti ini
Kemarilah, jika engkau ingin mengetahui rahasia kehidupan abadi
Kemarilah, jika engkau ingin langit dan bumi
Guruku yang purba dari langit telah memberi ilmunya pada diriku
Tak dapat kurahasiakn dia dari kawan-kawanku
Wahai Saqi, penuang anggur! Tuangkan anggur dalam piala
Hapuskan desakan waktu dari hatiku!
Anggur kemilau mengalir dari pusat kesucian zamzam
Andaikan dia seorang pengemis, namun raja akan menghormati dirinya
Dijadikannya perasaan semakin bijaksana dan sederhana
Dijadikannya mata yang tajam agar semakin awas memandang
Dijadikannya ilalang seberat gunung
Dan dianugerahkannya tenaga singa jantan pada seekot kancil
Karenanya pula maka abu terbang hingga ke bintang surya
Dan setitik air menjelma samudera luas
Didengungkannya kesunyian jadi gemuruh hari pertimbangan
O, Saqi! Tuangkan anggur murni ke dalam pialaku!
Tuangkan sinar El Qomar dalam kegelapan malam anganku
Biar kubimbing si pengembara pulang ke rumahnya
Akan kuhiasi sang pelamun dengan kegelisahan pencarian demi pencarian
Agar dia menjadi terkenal sebagai seorang pembaru
Dan mata mereka yang buram akan bening berkilatan
Dan bagai irama merdu yang bertenggelaman ke dalam telinga dunia
Meluhurkan kembali ketinggian syair
Dan curahan airmataku menyegarkan rumput-rumput kerontang
Jalaluddin Rumi Sang Sufi Sejati telah mengilhami diriku
Maka aku kembali membaca buku tertutup yang diliputi hikmah
Dan kepenuhan rahasia itu
Jiwanya adalah sumber api berkobaran
Sedang aku cuma bara kekaguman yang menyala jadi api

Yang terbakar oleh pelitanya, aku si agas itu
Anggurnya memenuhi pialaku
Rumi mengubah tanahku jadi emas permata
Lalu merias abuku dengan Keindahan

Dan butir pasir ini berasal dari gurun
Dia datang untuk mendapatkan sinat berkilauan matahari
Akulah gelombang yang menyatu dengan lautnya
Kujadikan mutiara milikku penuh kilau
Anggur lagunya membuat diriku mabuk kepayang
Dan kuhidupi diriku dari nafas kata-kata

Malam
Hatiku nyaris tenggelam dalam pusaran keluh kesah
Kesunyian ditingkah oleh tangisku kepada Ilahi
Aku ratapi derita sengsara dunia ini
Dan aku merana tatkala pialaku telah kosong
Akhirnya kantuk memperdayaku, aku tak kuasa lagi, akupun tertidur
Maka, aku bermimpi sang guru yang datang dari ufuk Hakikat

Dia yang menulis masnawi dari Persia
Berkata: " Wahai, sang pencinta mesra, minum seteguk anggur Cinta
Dengungkan dawai kalbumu
Benamkan kepala dipinggir piala ini
Jadikan tawamu sumber segala keresahan
Jadikan hati manusia berdasar dari air matamu!
Akan berapa lama lagi engkau berdiam diri seperti putik bunga?
Pancarkan aroma wangimu seperti mawar!
Jika lidahmu terikat engkau akan menderita
Lemparkan dirimu ke dalam api laksana damar!
Bagai genta membahana pecahkan kesunyian ini
Dan dari seluruh bagian tubuhmu wujudkan pribadimu
Kaulah api!
Ramaikan dunia ini dengan nyalamu
Kobarkan yang lain dengan cahayamu
Hidupkan kembali rahasia Sang Penjual Anggur

Kau adalah gelora anggur dan piala kristal jubahmu
Mari, pecahkan cermin ketakutan
Pecahkan botol dan buli-buli di pasar
Seperti peniup buluh perindu, tiup pesanmu dengan serulingmu itu
Layangkan kabar kekasih untuk Majnun dari Laila
Ciptakan irama baru bagi lagumu

Meriahkan pesta raja dengan alun suaramu
Bangkitlah!
Hidupkan kembali seluruh ruh yang hidup
Bangkitlah!
Dan bergegas dengan langkah-langkah berjiwa
Berjalan tegak lalu arahkan langkahmu ke jalan yang lain
Enyahkan segala kemesraan romantika lama
Karibkan dirimu dengan kenikmatan bersenandung
Wahai genta kafilah gemakan suaramu!"

Dari rangkaian kata yang mengalir ini dadaku terang bercahaya
Perasaanku dipenuhi keharuan bersama tiupan seruling
Bangkitlah!
Aku bagaikan irama musik dari dawai-dawai kecapi
Yang menghadirkan taman firdausi bagi tiap telinga
Dan kusingkap tabir rahasia pribadi ini
Yang maujud dalam kesejatian hikmah

Aku adalah sebentuk arca belum sempurna
Tak jelas ujudku, tak bernilai tak pula punya mutu
Namun Cinta memahat pribadiku: Aku jadi manusia
Hingga akhirnya aku koyak tabir rahasia kehidupan
Dan aku menyuling rahasia tata hidup ini dalam laboratorium Penjadian
Aku serahkan keindahan kepada malam seperti bulan
yang asalnya adalah titik debu yang berbakti kepada dinul-Islam
Iman menghampar di lembah dan ngarai
Iman menyalakan api nyanyi tak surut
Disemaikannya sebutir zarrah dan dipungutnya matahari
Dipetiknya ratusan penyair seperti Rumi dan Attar
Akulah kecemasan: Aku akan menjulang ke langit raya!

Akulah nafas, tapi aku percik api
Dari keluhuran Cinta
Penaku menulis rahasia seluruh misteri ini
Hingga setitik air menjelma samudera
Dan sebutir pasir menjelma gurun Sahara
Bukan sekedar bersajak saja masnawiku ini
Semata memuja keindahan dan berkasih-kasihan, bukan itu tujuanku
Sebab aku muslim! Bahasa Persia bukan bahasa ibuku

Aku cuma seperti bulan sabit: pialaku tak penuh
Tak akan kau temukan pesona gaya dalam diriku
Jangan kau cari Khansar dan Isfahan pada diriku
Meskipun bahasa Urdu semanis madu
Namun lebih manis bahasa Persia
Ruhku takjub akan keindahannya
Penaku jadi sebatang ranting dalam hutan terbakar
Oleh keluhuran cita-citaku
Hanya bahasa Persia layak baginya
Pembaca, jangan cari kesalahan pada piala anggur
Tapi temukan cita rasa anggur dalam piala itu.

Baca selengkapnya.....

Pesan Kepada Bangsa Timur: Puisi Inspirasi Muhammad Iqbal

Sunday, July 19, 2009




Bangunlah kerajaan cinta di tempatmu berdiam
Ciptakan nama baru
Fajar dan malam kemilau
Tenunlah kta-katamu
Jika Tuhan melimpahimu sahabat alam
Dari kesenyapan mawar dan teratai
Jangan pinta karunia dari si tukang gelas Magribi
Buatlah sendiri piala dan kendimu dari tanah lempungmu

Lagukan bagai buah anggur di tangkainya
Buatlah minuman darinya
Jalan hidupku bagai fakir
Tapi aku tak berkeluh
Jangan jual pribadimu sambil mengenakan pakaian pengemis

Lihatlah! Wahai pengatur matahari dan bulan
Semurah debu dalam gairahnya takjub terpesona
Melahirkan gurun pasir maha luas
Telah kau tanamkan cinta dalam hati manusia
Bara api kau lontarkan ke rumput ilalang
Tapi lihat betapa aroma manusia menggetarkan api
Dan menegakkan langit baru
Sebuah atom tak punya arti untuk membangun sebuah alam baru

Baca selengkapnya.....

Kehendak dan Gairah: Puisi Inspirasi dari Muhammad Iqbal

Wednesday, July 15, 2009

Hidup ini dikekalkan oleh tujuan
Karena tujuan pula maka genta kafilah berbunyi
Hidup terpendam dalam pencarian
Asalnya tersembunyi dalam gairah
Nyalakan gairah kau dalam hati riang gembira
Jelmakan debumu sebesar monumen kenangan
Gairah adalah ruh dunia ini dari warna-warni wangiannya
Seluruh kesucian merupakan kepatuhan akan gairah
Yang hendak menarikan hati dalam dada
Diberinya tenaga dahsyat bagi bumi
Gairah adalah Khidir bagi Musa pemilik 'irfan
Hati menyerap hidup dari nyala gairah
Dan bila direnggutnya maka patahlah sayapnya
Lemah tak berdaya dan tak kuasa terbang tinggi
Gairah adalah gerak pribadi
Gairah adalah ombak keglisahan dari samudera sang pribadi
Gairah adalah jaring yang menjala cita-cita
Penjilid buku amal perbuatan
Meninggalkan gairah berarti kematian bagi hidup sejati
Seperti redup nyala mematikan api

Apakah sumber dari mata kita yang senantiasa waspada?
Kenikmatan penglihatan adalah sanggup menghadirkan bentuk yang nyata
Kaki burung merak terjelma dari keindahan langkahnya
Paruh burung bulbul mewujud dari kegairahan nyanyinya
Ilalang yang memisahkan diri dari rumpun akan mendesir gembira
Sedang lagu melepaskan diri dari penjaranya

Mengapa ruh berhasrat ingin mencari sesuatu yang baru
Dan ingin mendaki keluasan langit?
Tahukah engkau apa yangh menyebabkan mukjizat ini?
Itulah semata gairah yang memperkaya hidup ini
Dan akal budi adalah anak dalam rahimnya
Apa itu organisasi sosial, adat istiadat, dan undang-undang?
Langit gelombang abu dipertemukan jalannya
Dari pohon mawar, dunia melimpah kedalam mawar
Malam terjelma karena tidur, hari lahir karena terjaga
Dibaginya nyala dalam bara
Dan diajarkannya mereka yang budiman memuja kesulitan hidup
Berpancaran dirinya untuk sementara dan dijadikannya tumpukan pasir
Lalu dia akan menyatu kembali menjadi gunung-gunung
Inilah fitrah sang pribadi yang hendak menjelmakan dirinya:
Dalam tiap zarah bersemayam kuasa sang pribadi
Kodrat yang belum mewujud dan tersembunyi
Membelenggu sifat-sifat yang akan mengeluarkan amal
Laksana hidup dialam semesta yang lahir dari kodrat-iradat
Sang Pribadi

Hidup setara dengan kekuatan ini
Apabila setitik air menghafal ajaran sang pribadi
Ditunjukkannya peristiwa kosong ini menjadi mutiara
Anggur tak akan membentuk sebab pribadinya lemah
Tapi karena piala maka anggur mengambil bentuknya
Namun banyak utang budinya pada kita untuk geraknya

Apabila gunung hilang padunya, dia akan menjadi tumpukan pasir
Dan mengeluh, lautan melingkupinya
Tapi ombak selamanya terus menjadi ombak dalam lautan
Ombak tetap jadi penunggang punggung lautan
Cahaya selamanya tetap jadi peminta-minta sejak mata mulai melihat
Dan bergerak kian kemari mencari yang indah
Tetapi sebagaimana rumput yang mencari cara dalam pertumbuhan dirinya
Angan-angannya ingin memecah dada sang tamansari
Pelita juga memadukan dirinya
Dan menghimpun pribadinya dari gugusan zarrah
Lalu dipamerkannya kebiasaannya menghancurkan diri sendiri
Dan lari dari dirinya
Sampai akhirnya meleleh dia dari matanya sendiri, bagai airmata
Tidak akan dirinya menderita luka

Namun karena dia mengambil nilainya sendiri dari kehendak yang lain
Akhirnya sirnalah bahunya oleh gosokan benda yang lain itu
Oleh karena bumi berdasar kokoh atas kejadiannya sendiri
Bulan mengedarinya terus menerus
Ujud matahari lebih perkasa dari ujud bumi
Itulah sebabnya maka dunia mempesona bagi mata sang surya

Kesyahduan padang kemilau menangkap pandangan kita
Gunung kian dahsyat oleh keluhurannya
Bajunya ditenun dari serat api
Asalnya adalah bibit sejati

Bila kehidupan menghimpun tenaga dari sang pribadi
Sungai kehidupan akan meluas ke dalam samudera raya

Baca selengkapnya.....

Teguh Pribadi dengan Cinta: Puisi Inspirasi Muhammad Iqbal

Wednesday, July 08, 2009

Apabila pribadi diperkuat dengan cinta
Kekuatannya menguasai alam semesta
Kiai langit menghias langit dengan taburan bintang
Dipetiknya putik bunga dari dahan pribadi
Tangannya menjelma tangan Tuhan
Bulan pecah oleh jemarinya
Dialah yang akan mendamaikan setiap silang sengketa dunia
Petunjuknya dipatuhi oleh Darius dan Jamsid

Dengarlah. Akan kuceritakan riwayat Bu Ali Qalandar
Yang namanya termasyhur di daratan India
Dia yang mendendangkan taman bunga kepada kita
Dengan jubahnya yang berkebaran penuh kemilau
Berubahlah negeri bencana itu jadi taman firdausi
Suatu hari seorang santrinya yang muda berjalan-jalan ke pasar
Saat itu pula tampak gubernur kota tengah menunggang kuda
Para oengawal dan pemayung turut berkuda di sisinya
Pengawal yang di depan berseru kepada santri muda itu:
"Hai, orang gila. Enyahlah kau dari jalan Tuan Gubernur!"
Tapi, santri itu terus berjalan tanpa hirau dengan kepala menunduk
Tenggelam dalam bara api lamunannya
Lalu sang gubernur mengayunkan tongkat ke kepalanya
Sampai patah tongkat itu
Santri muda itu mengerang kesakitan sambil menyingkir ke tepi
Dia amat sedih, hatinya luka
Kemudian dia mendatangi Bu Ali masih dengan airmata kesedihan
Betapa terkejutnya sang Kiai mendengar peristiwa itu
Lalu dia perintahkan kepada juru tulisnya:
"Tulislah sepucuk surat kepada sang Sultan.
Katakan kepada beliau
Bahwa gubernur telah menganiaya seorang santriku
Karena dia telah menodai hidupnya dengan tabiatnya sendiri
Tangkap gubernur celaka itu
Jika tidak, maka kerajaanmu akan kuserahkan kepada orang lain."

Surat kiai itu sampai kepada Tuhan
Sultan menggigil ketakutan
Sekujur tubuhnya didera penderitaan
Wajahnya pucat pasi seperti matahari senjakala
Maka sultan pun menghukum gubernur tersebut
Lalu dia meminta ma'af kepada Bu Ali sang Sufi suci.
Maka sang sultan memilih Khusrau penyair terkemuka
Untuk menjadi wakilnya menghadap Bu Ali
Penyair berbakat selembut sinar rembulan itu
Datang kepada sang sufi seraya memainkan sitarnya
Syairnya yang mempesona itu sanggup meluluhkan hati sang sufi
Dan Bu Ali pun memberikan ma'af kepada sang sultan.

Syeh Ali berfatwa:
"Jangan lukai hati ulama dan sang sufi
Jangan lemparkan dirimu ke dalam nyala api kemungkaran."

Baca selengkapnya.....

Kisah Intan dan Batu Arang: Puisi Inspirasi dari Muhammad Iqbal

Kini aku buka lagi satu gerbang hakikat
Akan kuceritakan padamu kisah yang lain

Batu arang di tambang berkata kepada intan:
"Wahai, kau yang selamanya bercahaya kemilau
Kita adalah sahabat dan kita adalah satu ujud
Karena asal kejadian kita tak berbeda,
Tak ada nilai dalam diriku hingga aku hancur kelak
Sedangkan kau diletakkan menghias mahkota raja
Hati cermin remuk redam oleh keindahanmu
Dan ujudku yang hitam ini hanya menerangi alat masak
Lalu akhirnya aku jadi abu
Yang diinjak-injak kaki siapa saja
Dan mengubur keadaanku dengan abu itu
Betapa malang nasibku ini.
Tahukah kau dari apa asalku?
Sedangkan kau adalah gas pekat yang membeku
Dikarunia cuma sekali berkilau
Baik dalam sifat maupun fitrah kau bagai bintang
Setiap segimu memancarkan cahaya
Kadangkala kau jadi cahaya mata raja
Namun kadang pula kau jadi hiasan seorang pembunuh

Lalu intan menyahut:
"Wahai, kawan yang bijaksana
Ketahuilah, bahwa tanah hitam yang membatu makin tinggi mutunya
Setelah berjuang dengan lingkungannya
Dia jadi matang tumbuh keras seperti batu
Itulah sifat-sifat yang memberi sinar padaku
Yang mengisi ujudku dengan cahaya
Tapi karena engkau belum begitu matang
Maka kau tampak jadi hina dan tersingkir
Karena tubuhmu lunak kau dibakar orang
Namun, hindarilah rasa takut, duka dan sedih hati
Jadilah batu, jadilah intan!
Siapapun yang rajin berusaha dan kerap mencoba
Akan disinari olehnya
Segenggam tanah adalah muasal Batu Hitam
Yang menghiasi Ka'bah
Nilainya lebih tinggi dari gunung Sinai
Dia selalu dicium oleh yang berdosa dan yang suci
Dalam kesunyianlah letak keluhuran hidup!"

Baca selengkapnya.....

Waktu adalah Pedang oleh Muhammad Iqbal

Sunday, June 28, 2009

Semoga subur makmur makam Imam Syafi'i
Pohon anggurnya telah menggembirakan dunia!
Citanya memetik bintang dari langit
Disebutnya Waktu sebagai pedang yang membabat sagalanya

Apa hendak kukata, bagaimana rahasia pedang itu?
Cahaya dan kilaunya berasal dari hidup ini
Bagi yang memilikinya bebas dari harap dan khawatir
Tanganmu lebih putih dari tangan Musa
Sekali ketuk air muncrat dari tubir gunung
Dan laut jadi tanah
Musa menghunus pedang Laut Merah terbelah dua
Pedang itu pun memberi kekuatan kepada Sayyidina Ali
Yang menaklukkan benteng Chaibar

Revolusi langit begitu jelas
Perkisaran siang-malam amatlah nyata

Lihatlah! Kau yang dibelenggu masa lalu dan masa depan
Pandanglah alam lain dari kalbumu
Tapi mengapa kau semai bibit kegelapan
Kau bayangkan Waktu hanya seperti garis
Waktu cuma kau ukur dengan siang dan malam semata
Kau jadikan ukuran itu pengikat hati tak beriman
Kaulah pembuat iklan kepalsuan seperti arca-arca
Padahal dulu kau unsur yang hidup
Kini mati kering mengabu
Kini kau budak pemuja dusta

Benarkah kau Islam? Ayo, putuskan rantai belenggu itu!
Jadilah pancaran cahaya cemerlang bagi agama orang merdeka
Sebab kau tak tahu asal-usul Waktu
Tak kau kenal kehidupan yang kekal
Untuk berapa lama lagi kau dipenjara malam dan siang?
Petiklah rahasia Waktu
Maka akan kau dapatkan keajaibannya

Bukan matahari yang melahirkan Waktu
Waktu kekal, sedang matahari sebentar akan musnah
Waktu adalah rahasia sinar bulan dan cahaya matahari
Bentangkan waktu
Bedakan masa lalu dan masa depan
Waktu tak berakhir tak bermula
Dia adalah bunga dari taman ruh kita
Mengenal hakikat akan menyegarkan hidup berjiwa baru
Ujudnya lebih syahdu dari fajar
Hidup bermula dari Waktu
Waktu bermula dari hidup

Jangan salah gunakan Waktu
Waktu adalah pedang

Baca selengkapnya.....

Kisah Seekor Burung oleh Muhammad Iqbal

Friday, June 19, 2009

Seekor burung tampak lemas didera dahaga
Nafasnya terengah-engah
Lalu dia melihat intan di sebuah taman
Sebab teramat dahaga
Burung tolol itu seperti melihat air
Karena tetap menyangka intan itu adalah air
Burung itu mematuk intan
Yang tak mungkin membasahi batang lehernya
Maka berkatalah sang intan:
" hai, budak nafsu yang kosong
Telah kau patuk aku dengan paruhmu
Tapi, aku bukan titik air
Aku tak mungkin memberikan minum
Aku tak mungkin dapat menghidupi siapapun
Kau melukai diriku. Gila kau ini !
Kehidupan yang menjelmakan pribadi asing bagimu
Airku akan menggetarkan paruh-paruh burung
Lalu membunuh kehidupan.
Burung itu tak mungkin menginginkan sang intan
Dia berlalu dari batu permata itu
Dengan perasaan kesal
Siulnya cuma jadi keluh kesah.
Setitik embun di dahan bunga mawar
Berkilauan bagai air mata burung bulbul
Karena mataharilah kilaunya itu
Maka gemetar dirinya takut kepada matahari
Gelisah resah bintang yang baru lahir
Yang sekejap 'kan padam, sebab gairah di pantau
Kerap tertipu yang mana didapatnya dari hidup ini
Lihatlah kini dia tergantung, sebentar hendak jatuh
Seperti airmata orang bercinta sebab kehilangan kekasihnya
Burung yang kesal itu
Lalu melompat di bawah pohon mawar
Kemudian titik embun itu netes di paruhnya,
Waha kau yang hendak melepaskan diri dari musuh
Aku bertanya kepadamu
Apakah kau titik air atau intan?
Bila burung hangus dalam api dahaga
Masih dimilikinya hidup yang lain
Titik embun itu tidak padu seperti intan
Sebab intan tak seperti embun
Intan jelas bentuknya
Maka jangan sejenakpun abaikan pribadimu
Padatkan air perakmu jadi batu perak!
Ciptakan nyanyian dari dawai kepribadian
Mewujudkan rahasia-rahasia kepribadian!

Baca selengkapnya.....

Tangis Pilu Seorang Penumpang Perahu oleh Muhammad Iqbal

Sunday, May 31, 2009

Kami sama-sama ditolak oleh kehidupan dan kematian, aduh!
Hujatan yang mereka tunjukkan.
Kami menyeberangi dunia Timur dan Barat,
hingga akhirnya dalam kedahsyatan kepedihan kami mencapai pintu neraka.
Tetapi menolak memercikkan sejumput apinya untuk kami,
bahkan debunya sekalipun buat dahi kami tidak dia tiupkan.
Dia berkata,'Aku lebih baik membakar debu dan sampah daripada membiarkan kedua pecundang ini mengotori api suciku.'

Kami melintasi sembilan cakrawala--demi mencari kematian--yang berkata,'Aku menguasai misteri kehidupan: tugasku adalah melayani jiwa, hanya daging saja yang aku tolak.
Harga jiwa yang buruk tidak sebanding dengan dua biji gandum, aku tidak dapat melakukan sesuatupun terhadap jiwa dungu ini.
Pergilah wahai engkau yang terbelenggu dalam kesia-sian dan tidak terbebas dari jiwamu sendiri, karena bagi pecundang tiadalah minyak dalam kematian.'

O prahara! O laut darah! O bumi! O langit biru! O bintang=bintang! O matahari dan bulan! O obat penyelamat! O Pena Ilahi! O Kitab Suci! O bayangan putig! O Tuhan Barat yang memegang dunia dalam genggaman tanpa peperangan.
Dunia ini tiada awal dan akhir, dimanakah dapat ditemukan tuhan bagi pecundang?

Seketika menggema suara yang membelah lautan dan menghancurkan dunia seisinya: bukit-bukit terbang berserakan.
Laksana awan gunung-gunung terbang di angkasa.
Semua gumpalan tanah berserakan, dunia hancur tanpa tiupan sangkakala kiamat.
Baik petir maupun kilat mencari perlindungan dibawah lautan darah.
Gelombang naik turun menggulung-gulung, menyapu habis bukit dan lembah.
Apapun yang terjadi pada makhluk yang terlihat maupun yang tidak terlihat, bintang-bintang hanya memandang terbang menjauh.

Baca selengkapnya.....

Pesan Kepada Manusia oleh Muhammad Iqbal

Monday, May 25, 2009

Bukalah matamu pandang dunia, bintang dan angkasa
Lihatlah sang mentari terbit di Timur dengan gembira
Lihatlah kasyaf tak bertudung itu bertabirkan cahaya

Kenangkanlah rindu dendam hari perpisahan
Tapi, jangan engkau lelah berusaha
Tengok perjuangan harap dan cemas
Seisi alam ini adalah milikmu
Kuasailah mereka

Kemarin kau pandang keelokan rupa para malaikat dan bidadari
Pandanglah kini bentukmu dengan cermin waktu
Selintas pandang matamu akan dipahami sang waktu
Dari kejauhan bintang-bintang memandang dirimu

Samudera pikiranmu tak mengenal batas
Nyala api akan melindap kelangit luas
Bangkitlah pribadimu
Nyalamu mengandung cahaya matahari

Dalam senimu terkandung sebuah dunia baru
Jangan terima kenikmatan sorga yang disuguhkan cuma-cuma untukmu
Sebab sorgamu ada dalam darahmu

Hai, bayang tanah lempung!
Raih pahala tiada hentinya

Sejak awal kejadian tiap dawai kecapimu bergetar
Sejak awal kejadian kaulah sipencari cinta setia
Sejak awal kejadian kau pengenal rahasia
Sejak awal kejadian kau si pekerja keras
Menumpahkan darah
Lalu kembali berdamai

Saksikanlah ! Betapa kehendakmu itu
Menentukan nasib alam semesta !


Baca selengkapnya.....

Kemenangan oleh Herbert Kauffman

Tuesday, April 28, 2009

Kau seorang yang biasa membual
bahwa sesuatu yang sangat besar akan kaucapai,
pada suatu saat nanti.
Sebenarnya kau hanya mau pamer,
betapa luas pengetahuanmu
dan berapa jauh yang mau kau tempuh
Setahun sudah kita lewatkan,
Gagasan baru apa yang muncul di benak Anda?
Berapa banyak peristiwa besar yang kau lakukan?
Waktu..... memberikan dua belas bulan penuh ke tangan Anda
Berapa banyak waktu yang kau pergunakan
dengan berani meraih peluang
dan waktu kapan saja kau kembali gagal?
Didaftar orang yang berhasil namamu tidak terdapat
Jelaskan kenapa!
Bukan peluang yang kau tidak punya!
Seperti biasa...Kau tidak berbuat apa-apa.

Baca selengkapnya.....

About This Blog

Blog Archive

  © Blogger template The Professional Template II by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP