Penghargaan

Thursday, September 17, 2009



Anggota Kongres Tennessee Ed Jones menceritakan tentang wanita dari kota yang tidak menghargai waktu yang dia lewatkan untuk komite pertanian. "Peduli apa kita dengan pertanian?" wanita ini meradang. "Kita mendapat bahan makanan kita dari toko swalayan!"

Komentar seperti itu tidak akan masuk akal bagi orang yang mengatakannya kalau dia tidak begitu dipengaruhi oleh keresahannya sendiri. Tetapi sekali lagi, kita semua melihat masalah kita sebagai hal yang lebih penting daripada masalah orang lain.

Kita tergantung pada orang lain. Pikirkanlah telur yang Anda nikmati untuk sarapan. Sebuah toko menjualnya, sebuah truk mengantarkannya, seorang petani mengepaknya, dan seekor ayam mengeluarkannya. Sepanjang prosesnya banyak banyak orang yang terlibat. Gandum yang diberikan kepada ayam sebagai makanannya ditanam oleh petani lain yang membeli alat-alat pertanian dari pabrik yang mempekerjakan berpuluh-puluh karyawan. Truk yang mengantarkan telur diberi bahan bakar bensin yang diolah dan dikirimkan oleh pekerja lainnya lagi. Pekerjaan melacak pohon ketergantungan ini bisa tidak ada habis-habisnya, tetapi saya pikir Anda sudah mendapatkan gagasannya.

Kita berutang budi kepada banyak orang. Orangtua kita, guru kita, kawan-kawan kita, teman hidup kita--dan daftar ini masih bisa diteruskan. Tidak ada seorang pun dari kita yang hidup sendirian dan terpisah. Sementara keajaiban zaman kita berlipat ganda, pengaruh setiap orang meluas, tetapi demikian pula ketergantungannya. Pikirkan saja bahan makanan Anda.

PENGHARGAAN TERHADAP APA YANG KITA MILIKI PALING TIDAK MERUPAKAN SEPARUH CARA HIDUP YANG SESUNGGUHNYA.

Baca selengkapnya.....

Dong Guo dan Serigala: Cerita Inspirasi Negeri China




Dong Guo sedang melakukan perjalanan menuju negeri Zhong Shan untk mengurus sesuatu. Ia berjalan kaki sementara di punggung keledainya ada beberapa buku dan barang-barang bawaan lainnya. Berjalan dan terus berjalan sampai akhirnya Dong Guo sadar ia sudah salah jalan dan tersesat.

Sementara ia bingung arah yang seharusnya ditempuh, seekor serigala mendatanginya. Serigala itu berseru, "Tolong selamatkan aku, tolong salamatkan aku!"

Dong Guo balik bertanya, "Ada masalah apa denganmu, apa yang membuat kamu minta tolong kepada saya?"

Serigala itu menjawab, "Ada sekumpulan pemburu sedang mengejarku. Mereka bisa melukai dan membunuhku. Aku pernah mendengar bahwa Anda adalah orang yang sangat baik. Karena itu, aku mohon, tolong selamatkan aku. Aku pasti membalas budi baikmu!"

Setelah berpikir sejenak Dong Guo bertanya lagi, "Bagaimana saya bisa percaya bahwa kamu akan membalas budi, lagi pula jika para poemburu itu tahu saya menyembunyikan kamu, jangan-jangan saya pun akan celaka! Namun, saya selalu ingin berbuat baik. Sekarang saya akan menolongmu, hal yang lain itu urusan nanti."

Dengan segera Dong Guo mengeluarkan buku-buku dan barang bawaannya dan menyuruh serigala itu masuk dalam kantong barang tersebut untuk diletakkan di punggung keledai. Namun, sudah beberapa kali dicoba, serigala itu tidak juga bisa masuk dalam kantong itu. Semakin tidak bisa masuk, semakin membuat serigala itu khawatir dan takut. Lalu dengan hikmat terakhir Dong Guo menekuk ke empat kkaki serigala itu dan akhirnya bisa masuk juga.

Baru saja kantong itu diletakkan di atas punggung keledai, para pemburu datang dan bertanya kepadanya, "Apakah Tuan melihat seekor serigala lewat?"

Dong Guo menjawab, "Saya sedang salah jalan dan tersesat. Sekarang saya sedang bingung harus jalan ke arah mana. Karena itu, saya tidak terlalu memperhatikan apakah ada serigala lewat atau tidak."

Para pemburu itu pun percaya dan segera berlalu dari hadapannya.

Melihat para pemburu sudah berlalu dan merasa situasi sudah aman, Dong Guo melepaskan serigala itu. Begitu keluar serigala itu pun berkata, "Sungguh aku berterimakasih kepadamu karena telah menyelamatkan nyawaku. Namun, jika Tuan ingin menolong seharusnya menolong sampai tuntas!"

Dong Guo bingung mendengar ucapan itu. Ia bertanya, "Apa maksudmu menolong sampai tuntas?"

Serigala pun menjelaskan, "Aku sekarang sudah sangat lapar. Beri aku makanan atau biarkan aku memakanmu, karena dengan demikian Tuan sudah menolong saya sampai tuntas!"

Dong Guo terkejut dan mulai takut mendengar ucapan serigala itu. Sambil menjauh ia berkata, "Kok, bisa begitu? Di kolong langit ini tidak ada yang seperti kamu. Saya sudah menyelamatkanmu dari kematian tapi sekarang kamu mau makan saya? Jika kamu tetap mau makan saya, coba pergi dan cari tiga makhluk tua dan bertanya kepada mereka. Jika mereka setuju bahwa kamu boleh memakan saya, segera makanlah saya."

Serigala itu pun menyanggupi syarat yang diajukan Dong Guo. Ia membawa Dong Guo pergi ke satu pohon besar dan bertemu dengan tikus. Serigala itu menceritakan kepada tikus bahwa dia sudah ditolong oleh Dong Guo dan sekarang, karena lapar, ingin memakan Dong Guo.

Tikus itu menjawab, "Aku sudah dua puluh tahun membantu Tuanku untuk mengambil buah-buahan. Sekarang ketika aku sudah tua seperti ini, dia malah menjualku. Hidup memang begitu, sering kali kita harus menjumpai ketidakadilan. Karena itu aku setuju kalau serigala ingin memakan Tuan!"

Lalu mereka pun meneruskan perjalanan dan bertemu seekor sapi. Kejadian yang sebenarnya pun diceritakan kepada sapi. Setelah mendengarkan dengan seksama, sapi itu memberikan pendapatnya, "Seumur hidup susuku diperas oleh tuanku, sekarang ketika aku sudah tua dan tidak bisa memproduksi susu segar lagi, mereka merencanakan untuk menyembelih dan memakan dagingku. Karena itu, aku setuju bila serigala memakan tubuh Tuan!"

Sementara meneruskan perjalanan, Dong Guo semakin ketakutan dan juga mulai menerima kenyataan bahwa serigala yang ditolongnya malah mau memakan dirinya. Akhirnya mereka bertemu seorang yang tua. Orang itu mendengarkan dengan seksama semua cerita Dong Guo dan serigala.

Setelah menimbang-nimbang orang tua itu sambil mengernyitkan dahi bertanya, "Saya tidak habis pikir bagaimana mungkin serigala bisa masuk ke kantong sekecil ini? Jika saya dengan mata kepala sendiri bisa menyaksikan serigala ini masuk ke dalam kantong dan Tuan bisa mengangkat dia ke atas punggung keledai, maka saya setuju tubuh Tuan dimakan olehnya."

Mendengar itu, serigala merasa di atas angin karena sebentar lagi bisa memakan tubuh Dong Guo. Serigala itu berkata dalam hati, tadi aku bisa masuk sekarang juga pasti bisa!

"Ayo Tuan Dong Guo, silakan buka kantong Anda dan biarkanlah Pak Tua ini menyaksikan bahwa saya bisa masuk ke dalam kantong itu dan Tuan bisa angkat ke atas punggung keledai!" kata serigala bersemangat.

Dong Guo melipat keempat kaki serigala lalu memasukkan ke dalam kantongnya, setelah itu ia mengikatnya. Ketika hendak mengangkatnya ke atas punggung keledai, Pak Tua itu berkata, "Biar saya yang melakukannya!" Lalu Pak Tua itu dengan segera mengeluarkan tongkat kayunya dan memukulkannya berkali-kali ke kantong tersebut. Serigala itu meraung-raung dengan kerasa, namun suara raungan itu makin lama makin pelan sampai tak terdengar lagi. Serigala itu pun mati, dan Dong Guo bisa melanjutkan hidupnya.

Baca selengkapnya.....

Pelajaran Tentang Memetik Buah

Wednesday, September 16, 2009




Bisnis menanam kebun buah tidak dimulai dengan mengadakan sebuah konfrensi kebun buah. Sekali lagi, tidak perlu. Itu dimulai dengan memperoleh benih dan memberi setiap benih itu kondisi yang baik agar dapat menyusun potensinya dan tumbuh menjadi pohon yang tumbuh penuh. Ketika seseorang telah melakukan hal ini, dengan benih yang tak terhitung, baru kemudian seseorang dapat berharap memperoleh kebun buah yang baik.

Dalam konteks demikian, seluruh bangsa sama halnya seperti sebuah kebun buah. Bangunlah diri Anda maka Anda membangun bangsa itu! Jika potensi yang terpendam dibangun, mendapat pendidikan, pengetahuan dan lingkungan yang baik dalam tingkat individu atau sangat dini dalam seluruh proses, seperti sebuah pohon muda, ia harus ditanam yang dipersiapkan dengan baik dan diberi pupuk yang sesuai jenis dan takarannya, air, sinar matahari dan lain sebagainya. Jika orang ditunjukkan dengan baik ketika mereka masih muda oleh orang yang penuh kasih sayang dengan sikap yang baik, niscaya mereka akan membangun kesadaran yang sehat tentang komitmen mereka terhadap masyarakat sebagaimana seharusnya. Itu artinya mereka akan menjadi bagian seluruh bangsa.

Jika orang yang masih muda diarahkan menjadi manusia sejati, mereka harus mempunyai perasaaan yang terlatih untuk mencapai tujuan-tujuan positif. Mereka harus senantiasa menjaga perjuangan yang damai dan baik. Sehingga mereka akan menjadi orang yang hanya akan membuat keselarasan dan menghindari pertentangan, orang yang hanya menyelesaikan dan bukan membuat masalah bagi teman mereka.

Walaupun kita harus menerima kenyataan bahwa ini adalah dunia kompetisi, tak ada yang akan menghalangi kita dari usaha kerja bekerja sama dan mendorong kerjasama dengan orang lain. Jika kita bahu membahu dengan teman kita dalam menghadapi permusuhan yang menyakitkan, tak ada halangan yang tak dapat kita atasi, tak ada resiko yang tak dapat kita hadapi. Tetapi jika kita tidak melihat bahwa gagasan-gagasan tersebut dikampanyekan dan diterima di antara masyarakat dalam waktu tertentu, kita tidak dapat berharap untuk mendengar orang yang mau bekerja sama. Tak perduli betapa bagusnya benih pohon buah di kebun kita, jika tak dirawat terus-menerus dengan baik, pohon itu tidak akan berbunga dan berbuah.

Baca selengkapnya.....

Menanam Pohon Bangsa




Mantan Presiden Amerika, John F. Kennedy, merujuk pada Lyautey, suatu kali dia mengingatkan, "Aku pernah meminta tukang kebunku menanam sebuah pohon. Tukan kebun menjelaskan bahwa pohon itu lambat tumbuh dan tidak akan matang sampai seratus tahun." Aku lalu menjawab, "Oleh karena itu tidak ada waktu untuk dibuang, tanam nanti sore............".

Pertumbuhan dan perkembangan sebuah negara bagaikan sebuah hubungan yang panjang, dan pasti ada pengorbanan yang luar biasa pada tingkat individu dan nasional sebelum akhirnya menjadi berbunga dan mendapat posisi terhormat dan mulia dalam hubungan pergaulan dunia. Tetapi bagi kita yang tak kuasa menunggu kematangan kebijakan nasional dalam seratus tahun, jawabannya hanyalah: "Oleh karena itu, kita tidak dapat membuat mesti satu menit waktu. Kita harus menanam 'pohon kita menit ini juga'.

Jika untuk mengambil pohon yang besar dan tinggi harus menunggu seratus tahun, siapa pun yang ingin mempunyai pohon tersebut tak punya pilihan selain menanamnya pada waktu itu. Jika untuk memiliki pohon itu, orang hanya berhamburan turun ke jalan-jalan dan mengacungkan kampanye atas nama pohon, atau berkumpul di beberapa tempat terbuka, atau berjalan lewat jalan-jalan sambil meneriakkan slogan tentang itu, mereka tidak akan memiliki satu pohon pun, apalagi sebuah kebun buah sendiri.

Demikian pula, Anda tidak bisa memiliki sebuah rumah dengan pidato yang indah tentang kebutuhan akan rumah. Akan sangat bodoh melakukan hal tersebut. Begitu juga sebuah negara tidak dapat memperkokoh dirinya sendiri dengan kerja hanya dalam bidang politik. Dalam dunia puisi yang ajaib, revolusi dapat diperoleh sebagai hasil sebuah permainan kata-kata. Seorang pemimpin rakyat dapat membuat pidato yang membangkitkan dan menarik kumpulan orang yang banyak. Tetapi hasil nyata hanya bisa di capai dengan perencanaan yang panjang, berkelanjutan dan usaha yang penuh dedikasi.

Perlu dikatakan, bahwa dua kebaikan besar yang tak bisa dihindari dalam perjuangan adalah sabar dan teguh. Ya, dan bahwa cita-cita/keinginan tidak akan terwujud cuma dengan kata-kata, melainkan usaha keras dengan perbuatan nyata.

Baca selengkapnya.....

Bahaya Pengangguran




Kalifah kedua Umar Ibn Khattab seringkali menunjukkan rasa kecewanya kepada orang yang dia sukai. Yaitu, usai beliau lebih jauh mengenal orang yang disukainya, dan beliau mengetahui bahwa mereka menganggur. "Tahu dia tidak bekerja, maka dia telah menunjukkan kepadaku, bahwa dia tidak berharga. Dia telah merendahkan dirinya sendiri di mataku," katanya.

Dari arah manapun Anda melihat pengangguran, tidak ada kata yang tepat untuk mengatakan kenyataan itu kecuali sebagai kejahatan besar, yang menyebabkan seseorang menyia-nyiakan bakat terbaiknya dan membiarkan seseorang tidak mampu menghadapi kehidupan. Seorang pelajar yang sangat malas belajar tidak akan pernah dapat berharap untuk memperoleh pengetahuan atau kemampuannya terasah dengan baik, dan kegagalan dalam ujian akan membiarkannya tanpa 'ijazah' yang merupakan 'mantra pembuka' untuk pekerjaan yang layak.

Tanpa latar belakang pekerjaan yang baik, seseorang akan menemukan dirinya berada dalam kekosongan, berjalan kesana kemari tanpa arah. Bahkan orang yang telah membekali dirinya dengan berbagai kualitas, tidak bisa segera mendapat kehormatan. Ketika masa studi telah berakhir, bekerja keras secara konsisten adalah hal yang sangat penting. Banyak memang yang membuat alasan bahwa dia sedang menunggu pekerjaan yang tepat sesuai tingkat pendidikan dan profesinya. Tetapi, orang tidak bisa menunggu selamanya karena hanya membuang waktu saja.

Kadang tanpa sadar orang jatuh ke jalan pengangguran karena tidak ada tekanan ekonomi dalam kehidupannya. Mereka yang mendapat warisan, mempunyai harta atau modal yang memberinya keuntungan adalah orang yang mudah untuk menjadi pengangguran. Tetapi hal ini tidak ada artinya bagi seorang manusia. Siapa yang membiarkan racun pengangguran merangkak pada sistem (kehidupan) nya bisa sama baiknya dengan mati saja.

Seseorang harus memilih suatu pekerjaan tetap yang memberinya pemasukan yang layak dan menjaga kesehatan mentalnya, sehingga dia tidak menjadi beban orang lain, baik dalam keuangan dan perasaan. Atau jika secara keuangan seseorang telah mandiri, dia sebaiknya mengarahkan perhatiannya kepada hal yang lebih tinggi, meraih penghargaan, melayani yang patut dan menjaga dirinya selalu berguna sepanjang hari. Seseorang yang tidak punya komitmen, hanya hidup dipinggir keberadaan, sesungguhnya dia berada di luar kenyataan dan akan segera tergelincir ke dalam suatu keburukan. Tidak ada keunggulan nyata yang bisa ditemukan di antara rentang kekosongan.

Orangtua bilang, "Setan menemukan pekerjaan pada tangan-tangan yang menganggur." Camkan!

Baca selengkapnya.....

Pemuda

Tuesday, September 15, 2009




Apakah ini kedengaran seperti pernyataan yang tidak asing lagi: "Anak-anak tidak lagi mematuhi orangtuanya dan mereka melahap makanannya!" Kedengarannya serius, bukan? Ada orang-orang pada zaman sekarang yang punya pandangan sangat negatif terhadap para pemuda kita. Tetapi sebelum kita meneruskan lebih lanjut baiklah akan saya katakan bahwa pernyataan itu ditulis lebih dari empat ratus tahun yang lalu di suatu tempat di Lembah Sungai Nil.

Sejak awal, selalu ada orang yang berpikir bahwa generasinya paling buruk atau paling jahat sepanjang masa. Dan ada orang pada zaman sekarang yang berkeyakinan bahwa sebagai bangsa kita tidak punya masa depan. Saya mengakui bahwa ada suatu masa di tahun enam puluhan dan awal tahun tujuh puluhan ketika saya menderita sedikit kasus "pembusukan pemikiran". Saya mulai bertanya-tanya dalam hati apakah kita tidak kehilangan pegangan dan sedang terus merosot ke bawah.

Untunglah, bandul sekarang sedang membuat ayunan kembali ke cara pendekatan terhadap kehidupan yang lebih waras dan lebih kokoh. Setelah orangtua mulai mengajarkan rasa hormat dan disiplin, dengan banyak cinta yang dimasukkan ke dalamnya, para pemuda kita akan benar-benar dipersiapkan untuk karir yang produktif. Saya yakin para pemuda zaman sekarang pintar dan cerdas serta layak mendapatkan keuntungan diberi pelajaran disiplin dan tanggung jawab. Itulah satu-satunya cara mereka bisa tumbuh dan siap menerima kendali bisnis dan pemerintahan sehingga mereka bisa meninggalkan masa depan yang cemerlang untuk generasi yang menyusul.

PEMUDA BANGSA ADALAH PENANGGUNG JAWAB GENERASI MENDATANG. (BENJAMIN DISRAELI)


Baca selengkapnya.....

About This Blog

Blog Archive

  © Blogger template The Professional Template II by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP